Masalah peelitian (research problem) adalah isu, masalah, keprihatinan, atau kontroversi pendidikan yang menjadi alasan mengapa sebuah studi perlu dilakukan (Creswell & Guetterman, 2019).
Creswell & Guetterman, 2019 menjelaskan masalah penelitian biasanya muncul dari masalah di sekolah/ kelas/ kampus/ kebijakan dan isu praktik pendidikan sehari‑hari.
Contoh:
- Gangguan di kelas karena siswa berisiko
- Kurangnya keterlibatan orang tua
Mengapa penting?
Dengan meneliti masalah, peneliti bisa membantu pembuat kebijakan, membantu guru dan kepala sekolah menyelesaikan masalah praktis, dan memberi pemahaman lebih dalam tentang isu pendidikan.
Membedakan topik, research problem, purpose, research questions
Ini hal yang sering tertukar oleh pemula, jadi disini kita bahas perbedaannya.
1. Definisi:
a. Topik adalah bidang bahasan yang luas, judul besar yang mau dikaji.
Contoh: online learning.
b. Research problem adalah isu/ masalah khusus yang mempersempit topik.
Contoh:
Topik: online learning.
Problem: kurangnya mahasiswa yang mendaftar kelas online.
c. Purpose statement (tujuan penelitian) adalah pernyataan niat utama studi, cara konkret untuk menangani problem.
Contoh: Tujuan dari studi ini akan mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi pemanfaatan online learning dalam pembelajaran.
d. Research questions adalah pertanyaan spesifik yang akan dijawab melalui pengumpulan data.
Contoh: Apakah pemanfaatan online learning mampu meningkatkan motivasi belajar siswa?
Apakah masalah itu bisa dan seharusnya diteliti?
Agar masalah bisa diteliti kita perlu memastikan syarat-syarat seperti akses, waktu, sumber, dan keterampilan, sebagai berikut:
1. Akses ke orang dan lokasi
- Harus bisa dapat izin masuk ke sekolah/ kampus/ dll.
- Sering butuh persetujuan berlapis: dinas, kepala sekolah, guru, orang tua, siswa, dan IRB (komite etik kampus).
- Tanpa akses, studi tidak mungkin dilakukan.
2. Waktu
- Perlu taksiran realistis berapa lama pengumpulan dan analisis data.
- Studi kualitatif umumnya lebih lama (banyak observasi, wawancara, analisis teks).
- Bisa lihat durasi studi sejenis, tanya peneliti lain, dan buat timeline.
3. Sumber daya
- Dana (alat, honor partisipan, transkripsi, software statistik/CAQDAS, ongkos kirim, dll.)
- Kalau sumber terbatas, mungkin harus memperkecil skala studi, mencari dana, dan membagi studi jadi beberapa tahap.
4. Keterampilan peneliti
- Kuantitatif: mengoperasikan komputer, statistik, membuat tabel.
- Kualitatif: wawancara, observasi, analisis teks, menulis narasi rinci, menggunakan software analisis kualitatif.
Keempat aspek ini perlu dipastikan sebelum melakukan penelitian agar penelitian bisa berjalan dengan lancar.
Selanjutnya, bagaimana memastikan bahwa masalah layak atau bernilai untuk diteliti:
1. Mengisi gap (kekosongan) di literatur
Ada topik/kelompok yang belum pernah dikaji.
Contoh: studi tentang iklim etis kampus yang selama ini hanya meneliti mahasiswa, belum pernah meneliti dosen—ini celah yang bisa diisi.
2. Mereplikasi studi di partisipan atau tempat lain
Mengulang studi sebelumnya di konteks baru (jenis kampus lain, daerah lain, dll.) untuk melihat apakah hasilnya konsisten.
3. Memperluas (extend) penelitian yang ada
Membawa konsep lama ke konteks/ topik baru atau mengkaji lebih mendalam.
Contoh: iklim etis diperluas ke konteks situasi ujian, yang membawa dilema etis berbeda.
4. Memberi suara pada kelompok terpinggirkan
Meneliti kelompok yang sebelumnya jarang/ tidak didengar: tunawisma, perempuan, kelompok ras tertentu.
Contoh: studi iklim etis pada mahasiswa asal Papua, karena studi sebelumnya fokus pada kampus mayoritas di daerah Jawa.
5. Menginformasikan praktik
Studi menghasilkan saran praktis: teknik baru, kebijakan baru, penguatan praktik lama, atau kebutuhan mengubah praktik.
Contoh: studi etika di kampus bisa berujung pada kode etik baru, kebijakan anti‑curang, cara baru mengelola ujian.
Perbedaan research problem kuantitatif dan kualitatif
Setelah punya masalah, peneliti harus mempertimbangkan lebih cocok menggunakan pendekatan kuantitatif atau kualitatif?
1. Prinsip dasar: explanation vs exploration
- Kuantitatif untuk masalah yang butuh penjelasan (explanation); butuh menjelaskan hubungan antar variabel atau memprediksi suatu hasil / tren
- Kualitatif untuk masalah yang butuh eksplorasi (exploration); butuh memahami proses, makna, atau pengalaman secara mendalam dan biasanya ketika variabel/ pola belum jelas
Contoh studi kuantitatif keterlibatan orang tua:
- Problem: kita tahu sedikit tentang faktor apa yang menjelaskan mengapa orang tua terlibat di sekolah anak remaja
- Tujuan: menjelaskan/ memprediksi hubungan antar faktor (variabel)
Contoh studi kualitatif kepercayaan ibu terhadap kepala sekolah:
- Problem: perlunya pemahaman tentang kepercayaan ibu anak berkebutuhan khusus pada kepala sekolah
- Tujuan: mengeksplorasi dan memahami hakikat kepercayaan
2. Tabel pertimbangan praktis
Gunakan kuantitatif bila problem menuntut kita untuk mengukur variabel, menilai dampak variabel terhadap suatu outcome, menguji teori atau penjelasan luas, dan menerapkan hasil ke banyak orang (generalisasi).
Gunakan kualitatif bila problem menuntut kita untuk mempelajari pandangan individu, menilai proses dari waktu ke waktu, membangun teori dari perspektif partisipan, dan memperoleh informasi rinci dari sedikit orang/ sedikit lokasi.
Referensi
Creswell, J. W., & Guetterman, T. C. (2019). Educational research: Planning, conducting, and evaluating quantitative and qualitative research (6th ed.). Pearson