Bagian ini kita akan membahas bagaimana statement of the problem pada bagian pendahuluan. Sebelum membaca ini, kalian perlu membaca postingan sebelum ini yang membahas tentang:
- Mengidentifikasi research problem
- Memastikan bisa dan layak diteliti
- Memilih pendekatan kuantitatif atau kualitatif
Setelah memahami ketiga hal tersebut, selanjutnya kita akan belajar menulis statement of the problem, yaitu bagian pembuka laporan yang memperkenalkan studi kita.
Lima elemen utama yang wajib ada
Creswell dan Guetterman (2019) menjelaskan bahwa introduction atau statement of the problem yang baik memuat 5 elemen sebagai berikut:
- Topik
- Research problem
- Justification (urgensi/ pentingnya problem dari riset dan praktik)
- Deficiencies (kekurangan dalam pengetahuan/ praktik sekarang)
- Audience (siapa yang diuntungkan)
Kelima elemen ini membantu pembaca memahami pembukaan studi orang lain dan menjadi panduan menulis pendahuluan sendiri.
1. Topik
Kalimat pembuka harus membuat pembaca ingin lanjut membaca, menumbuhkan minat, dan memberi gambaran umum topik. Topik dalam pendidikan adalah bidang luas yang ingin kita kaji dan menimbulkan ketertarikan awal.
Tips:
- Mulai dari topik luas yang mudah dipahami pembaca awam
- Gunakan narrative hook di kalimat pertama untuk menarik perhatian. Ciri narrative hook yang baik seperti membuat pembaca memperhatikan, bereaksi secara emosional, tertarik, dan ingin terus membaca
Empat jenis informasi yang bisa dipakai sebagai hook:
- Statistik yang mencolok
- Pertanyaan provokatif
- Pernyataan jelas bahwa diperlukan penelitian
- Langsung menyebut tujuan studi
2. Research problem
Setelah topik, tulisan dikerucutkan ke research problem spesifik. Bisa ditulis sebagai satu kalimat atau beberapa kalimat pendek.
Problem terdiri dari:
- Practical problem yaitu muncul dari isu di lapangan (kebijakan, praktik). Contohnya seperti kebijakan satu anak di keluarga dan nilai anak laki‑laki vs perempuan)
- Research-based problem yaitu muncul karena gap/ konflik di literatur penelitian. Contoh research-based problem yaitu kurangnya riset yang menghubungkan dua area seperti kepercayaan guru pada praktik reading yang sesuai perkembangan dan orientasi teoretis guru)
3. Justification (alasan kenapa problem penting)
Tidak cukup hanya menyebut problem karena harus menjelaskan mengapa penting dipelajari. Justifikasi berarti menyajikan beberapa alasan yang menunjukkan urgensi problem, misalnya konsekuensi bagi siswa/ sekolah, besarnya masalah, dan kaitan dengan kebijakan/ praktik.
Sumber justifikasi:
- Saran peneliti lain di literatur (Penelitian masa depan, model yang belum lengkap, kebutuhan teori lebih lengkap).
- Pengalaman di tempat kerja (isu kebijakan, disiplin)
- Pengalaman pribadi (terutama untuk action research, narrative, studi praktis).
Catatan: pengalaman pribadi sebaiknya tidak satu‑satunya justifikasi, terutama di kuantitatif; sebaiknya dikombinasikan dengan literatur dan pengalaman kerja.
4. Kekurangan pengetahuan/ praktik
Di bagian ini, peneliti menjelaskan bagaimana pengetahuan/ praktik saat ini belum memadai untuk menjawab problem. Kekurangan bisa berupa perluasan riset ke topik/ konteks baru, replikasi, eksplorasi topik baru, mengangkat suara kelompok terpinggirkan, dan kebutuhan solusi praktik yang belum ditemukan. Peneliti dianjurkan menyebut 2–3 alasan spesifik mengapa literatur/ praktik yang ada masih kurang.
5. Audience (pembaca yang diuntungkan)
Peneliti perlu menyebut siapa saja yang akan diuntungkan oleh studi ini misalnya peneliti lain, praktisi (guru/ kepala sekolah), pembuat kebijakan, orang tua, siswa. Bagian ini biasanya muncul di paragraf penutup pendahuluan dan mempersonalisasi studi (pembaca melihat manfaat untuk dirinya), serta mengingatkan peneliti bahwa hasil penelitian harus berguna.
Strategi menulis statement of the problem
Creswell dan Guetterman (2019) menyarankan beberapa strategi praktis untuk menulis statement of the problem:
1. Gunakan template 5 paragraf
Bayangkan introduction sebagai 5 paragraf, masing‑masing untuk topik, research problem, justifikasi, kekurangan (deficiencies), dan audience.
2. Gunakan banyak sitasi literatur
Gunakan referensi yang banyak memberi nada ilmiah (scholarly tone) dan bukti objektif bukan sekadar opini pribadi. Referensi statistik sangat berguna untuk studi kuantitatif; kutipan partisipan cocok untuk studi kualitatif.
3. Pakai data statistik atau kutipan sebagai penguat
Statistik menonjolkan besarnya masalah (misal persentase perokok remaja). Sedangkan kutipan partisipan/ observasi sangat efektif untuk studi kualitatif.
4. Belajar dari contoh problem statement yang sudah jadi
Peneliti dianjurkan membaca pendahuluan studi‑studi yang telah dipublikasi dan mencari kelima elemen tersebut.
Referensi
Creswell, J. W., & Guetterman, T. C. (2019). Educational research: Planning, conducting, and evaluating quantitative and qualitative research (6th ed.). Pearson.
0 komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan baik dan sopan ya ^^