Tampilkan postingan dengan label Tips Akademik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Akademik. Tampilkan semua postingan

9/07/2024

Cara menciptakan critical concept yang baik dari bacaan

Hi semuaa, kali ini kita akan bahas gimana sih bisa menciptakan critical concept. 

Hmm critical concept itu apa sih? Kita singkat CC aja ya biar gampang nanti mentionnya, jadi CC itu adalah ide atau gagasan yang kita kembangkan dari analisis kritis berdasarkan apa yang kita baca.

Pentingkah CC dalam proses berpikir kita? Penting bangettt.

Kenapa? Melalui CC ini akan menghasilkan proses berpikir yang mendalam dari bacaan kita yang melibatkan sintesis, perbandingan, dan evaluasi.

Siapa yang harus menggunakan CC? Setiap orang harusnya menggunakan CC ya biar kita selalu bisa memunculkan critical thingking terutama siswa, mahasiswa, guru, dosen, dll. Untuk siswa/mahasiswa, CC diperlukan untuk menyelesaikan tugas essay/laporan yang diberikan oleh guru atau dosen sehingga kita akan terbiasa untuk membentuk proses berpikir yang kritis. Untuk guru/dosen, CC ini diperlukan untuk menghasilkan tulisan yang kritis biasanya guru/dosen dituntut untuk menghasilkan tulisan ilmiah dan CC diperlukan untuk bisa memunculkan sintesis dan menghadirkan argument yang kuat.

Kenapa aku buat tulisan tentang ini? Ini berangkat dari pengalaman aku mengajar dan mereview tulisan siswa/mahasiswa/pendidik dan juga kekhawatiran aku tentang proses berpikir mereka dalam membaca. Mereka terkadang belum bisa menghasilkan CC dari apa yang dibacanya. Padahal dengan CC, kita bisa memunculkan pemahaman mendalam, mengidentifikasi dan menanggapi masalah, bahkan bisa mengembangkan argument yang kuat loh. Nah kekurangan kita ya disini, jadi harapanku dengan adanya tulisan ini dan kalian yang membaca tulisan ini, setelahnya sudah mampu merubah proses berpikir kalian dan bisa memunculkan critical thinking dari apa yang kalian baca.

Mengapa tulisan ini penting untuk dibaca? Karena untuk akademisi seperti kita, akan selalu bertemu dengan banyak dan beragam bacaan yang perlu kita tarik CC dari setiap bacaan tersebut. Seperti aku, saat kalian baca ini, aku merupakan student di Indiana University Bloomington, USA yang dituntut untuk mengumpulkan CC setiap minggu dari 4-5 paper/book chapter yang aku baca (setiap paper terdiri dari 15-25 halaman). Aku menulis ini juga berdasarkan pengalamanku yang mendapatkan grade sempurna 10/10 yang diberikan oleh Professorku dari first attempt tugas CC aku loh, rasanya bangga sama diri ini hehe. Jadi gpp kan yaa aku merasa ini pencapaian yang bagus untuk aku sebagai student dari Indonesia yang tmn” kelasku itu berasal dari orang-orang pintar dari berbagai negara seperti Amerika, Eropa, Asia, dan Afrika. Soo makanya aku perlu membagikan tulisan ini ke kalian semua ^^. Btw sebelumnya aku memang suka membaca dan menulis, dan sudah mempublikasikan tulisanku di berbagai jurnal bereputasi jadi mungkin sudah terbiasa untuk mengembangkan CC dari setiap bacaanku.



Oke, sekarang kita bahas ciri-ciri critical concept ya.

1. Munculkan analisis

CC itu bukan hanya summary dari bacaan kita tapi cobalah untuk memunculkan analisis. Gimana cara memunculkannya? Bisa dilihat dari kekuatan, kelemahan, dan implikasi dari bacaan kita.

2. Lakukan sintesis gagasan

CC yang baik juga terdiri dari gabungan dari berbagai gagasan dan sudut pandang sehingga menciptakan sebuah konsep baru yang lebih mendalam. Ini bisa ditunjukkan dengan cara memadukan, mengkritisi, dan menanggapi teori yang ada.

3. Harus argumentatif

CC yang baik pasti memiliki posisi, maksudnya? Posisi disini yakni pandangan yang jelas dari masalah berdasarkan bacaan kita, daaan jangan lupa didukung dengan alasan atau bukti yang relevan ya. 


Yuks lanjut ke langkah untuk mengembangkan CC yang baik dan kuat.

1. Pahami materi 

Baca dan pahami

Baca dan sorot poin-poin penting, buatlah catatan dari bacaan itu, dan cobalah buat pertanyaan dari bacaan tersebut.

Identifikasi gagasan utama

Fokuslah pada teori atau konsep yang dihadirkan, dan argument yang dimunculkan dalam bacaan.

Pahami terminologi

Pastikan kita paham sama semua terminology/istilah dan konsep utama yang digunakan dalam bacaan.


2. Temukan kesenjangan

Cari ketidakkonsistenan

Ini aku kasih tips gimana sih cara cepat paham kesenjangan dari sebuah bacaan. Caranya coba kalian identifikasi kontradiksi atau bagian yang argumen penulis terlihat lemah atau tidak ada pendukungnya.

Pertanyakan asumsi yang muncul

Ini lebih advance lagi, kalian bisa menantang asumsi yang ada dalam bacaan. Gampangnya gini, coba tanya ke diri sendiri kira-kira asumsi yang dibuat penulis itu valid atau masih perlu pengujian lebih lanjut.


3. Lakukan sintesis

Buat perbandingan dan cari perbedaan

Sepertinya hal ini ga terlalu susah ya, jadi yang kita lakukan cuma perlu membandingkan beberapa bacaan kita. Apa yang dibandingkan? Kalian bisa bandingkan perspektif dari berbagai penulis tersebut lalu identifikasi perbedaan yang mencolok.

Temukan hubungan

Ini pun gampang, kalian perlu mencari hubungan antara gagasan atau konsep yang dimunculkan dalam bacaan. Intinya kira-kira isi dari bagian ini menjawab pertanyaan ini, "bagaimana bacaan-bacaan tersebut saling berhubungan?".


4. Munculkan perspektif baru

Buat tesis

Bentuk CC yang baik bisa dilihat dari bagian ini yakni memunculkan perspektif baru dan unik dari analisis yang kalian buat. Di bagian ini, kalian bisa mengembangkan argument sehingga memperlihatkan pemahaman kritis dari bacaan kalian.

Buat implikasi

Pertimbangkan tentang implikasi dari bacaan kalian, kira-kira untuk menjawab pertanyaan ini, "bagaimana argument kalian bisa berkontribusi pada bidang tersebut?".


5. Berikan bukti

Kalian perlu memberikan bukti dari argument yang telah kalian buat. Bukti ini dapat berupa sumber yang berasal dari jurnal, buku, pengalaman orang lain, dll. Intinya ada bukti penguat dari argument yang dibangun. Lalu sajikan analisis tentang bagaimana bukti yang dihadirkan itu mendukung argument kalian.


6. Minta masukan dan revisi jika perlu

Minta masukan dari orang lain

Mintalah orang lain membaca tulisan kalian untuk mendapatkan masukan yang berguna guna memperbaiki kualitas dan menyempurnakan tulisan kalian.

Revisi

Jika mendapati masukan atau kritikan dari orang lain, jadikan itu sebagai evaluasi dan perbaiki. Usahakan bersikap terbuka pada umpan balik yang diberikan orang lain agar tulisan kalian menghasilkan CC yang baik.


Finally, dengan kalian mengikuti langkah-langkah ini, aku harap kalian sudah bisa membuat CC yang baik dari bacaan-bacaan kalian.

So tunggu apa lagi, yuks langsung praktekin buat CC dari bacaan kalian, good luck!

7/16/2023

Apa saja yang harus ada di latar belakang karya ilmiah

Latar belakang sebuah karya ilmiah merupakan salah satu bagian penting yang mencangkup penjelasan tentang latar belakang masalah, state of the artnovelty, dan tujuan. Latar belakang karya ilmiah menjadi bagian awal yang penting dalam sebuah karya ilmiah. Fungsinya adalah untuk memperkenalkan topik yang menjelaskan mengapa topik tersebut penting dan relevan, memberikan konteks dan latar belakang masalah. Selain itu, tujuan penulisan juga diungkapkan untuk memberikan pemahaman kepada pembaca tentang apa yang ingin dicapai melalui karya ilmiah tersebut.

Latar belakang juga mencakup tinjauan literatur singkat untuk menunjukkan pemahaman penulis terhadap topik dan karya sebelumnya yang relevan. Dengan demikian, latar belakang karya ilmiah berperan penting dalam menarik perhatian pembaca, memberikan konteks, dan mempersiapkan mereka untuk memahami isi karya ilmiah secara keseluruhan.

Ada beberapa kesalahan umum yang sering terjadi dalam menyusun latar belakang karya ilmiah, antara lain:

1. Tidak memberikan konteks yang cukup: Latar belakang harus memberikan konteks yang memadai tentang masalah yang akan diteliti. Terkadang, penulis tidak memberikan informasi yang memadai mengenai kondisi saat ini, isu-isu terkait, atau relevansi topik dalam bidang ilmu atau praktik tertentu. Ini dapat membuat pembaca sulit memahami urgensi dan signifikansi penelitian tersebut.

2. Terlalu luas atau terlalu sempit: Latar belakang yang terlalu luas atau terlalu sempit dapat menyebabkan masalah dalam pemahaman pembaca. Terlalu luas mengacu pada pengenalan yang terlalu umum dan tidak terfokus pada masalah penelitian, sementara terlalu sempit hanya memberikan informasi terbatas tanpa menyajikan gambaran yang jelas.

3. Kurangnya tinjauan literatur yang memadai: Tinjauan literatur yang kuat dan komprehensif adalah bagian penting dari latar belakang. Beberapa kesalahan yang umum adalah tidak melakukan tinjauan literatur yang cukup, hanya mengandalkan sumber yang terbatas, atau tidak menghubungkan penelitian terdahulu dengan topik penelitian secara memadai.

4. Tidak mengidentifikasi kesenjangan (gap) pengetahuan: Latar belakang seharusnya mencakup penjelasan mengenai kesenjangan pengetahuan yang masih ada dalam bidang penelitian. Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah gagal mengidentifikasi dengan jelas kesenjangan pengetahuan yang akan diisi oleh penelitian tersebut.

5. Tidak menyajikan argumen yang kuat: Latar belakang seharusnya memiliki argumen yang kuat untuk mendukung pentingnya penelitian tersebut. Beberapa penulis tidak menyampaikan argumen yang cukup kuat atau tidak memberikan bukti atau alasan yang memadai untuk mendukung urgensi dan relevansi penelitian tersebut.

6. Tidak terhubung dengan tujuan penelitian: Latar belakang harus terhubung dengan tujuan penelitian secara langsung. Terkadang, penulis tidak mengaitkan dengan jelas bagaimana latar belakang masalah membawa pada tujuan penelitian yang spesifik yang ingin dicapai.

Untuk menghindari kesalahan ini, penting bagi penulis untuk memahami minimal lima hal yang harus ada di bagian latar belakang, antara lain:

1. Konteks masalah

Konteks masalah dalam latar belakang adalah memberikan gambaran yang komprehensif tentang situasi atau kondisi yang melingkupi masalah yang akan diteliti. Konteks masalah mencakup informasi yang relevan, seperti latar belakang historis, lingkungan sosial, politik, ekonomi, budaya, atau faktor-faktor lain yang berhubungan dengan masalah yang sedang diteliti.

Tujuan dari menyajikan konteks masalah dalam latar belakang adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih luas tentang masalah yang sedang diteliti, mengidentifikasi faktor-faktor yang relevan, dan mengaitkannya dengan tujuan penelitian. Konteks masalah membantu pembaca untuk memahami urgensi, relevansi, dan dampak yang mungkin dimiliki oleh masalah tersebut dalam konteks yang lebih luas.

2. Data

Sajikan data karena hal ini yang akan menguatkan bagian latar belakang. Sebagai contoh, jika penelitian membahas tentang tingkat putus sekolah maka sebaiknya tampilkan data putus sekolah yang dikeluarkan oleh lembaga resmi yang berkaitan dengan data putus sekolah tersebut seperti kementerian atau BPS. Data yang ditampilkan akan menguatkan latar belakang sebab tanpa data terkadang pembaca akan meragukan pernyataan yang kita berikan.

Contoh penyajian data,

"Berdasarkan laporan badan pusat statistik (BPS, 2021) menyebutkan bahwa terdapat sebanyak 75.303 orang anak yang putus sekolah pada 2021. Tingkat sekolah dasar (SD) menyumbang paling banyak angka putus sekolah sejumlah 38.716 orang. Kabar baiknya jumlah ini menurun 13,02% dari tahun sebelumnya. Dimana pada 2020, sejumlah 44.516 orang anak yang putus sekolah di tingkat SD. Selanjutnya, jumlah anak putus sekolah di tingkat sekolah menengah pertama (SMP) sejumlah 15.042 orang. Kemudian, sebanyak 10.022 orang anak putus sekolah di tingkat sekolah menengah atas (SMA). Sedangkan, di tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK) sebanyak 12.063 orang anak putus sekolah. Putus sekolah terjadi disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya faktor ekonomi, sosial budaya, dan akademik (AAA, 2017). Secara tren, jumlah anak putus sekolah di SD cenderung menurun dalam satu tahun terakhir. Namun, jumlah ini masih menjadi yang tertinggi di antara tingkat pendidikan lain. Putus sekolah erat kaitannya dengan lingkungan sosial dan budaya seperti tekanan dari keluarga, pernikahan dini, atau norma sosial yang mengabaikan pentingnya pendidikan yang dapat menyebabkan siswa menghentikan pendidikan mereka. Padahal, sekolah dasar memberikan dasar pendidikan yang kuat sebab siswa diajarkan memiliki keterampilan dasar, kemampuan sosial, dan dapat mengembangkan potensi individu (BBB, 2019)."

Contoh di atas merupakan paragraf yang mengandung data valid karena data tersebut berasal dari sumber yang kredibel. Hal yang ditekankan disini adalah penyajian data sebagai penguat latar belakang. Dengan begitu, pembaca akan percaya dan setuju dengan apa yang penulis sajikan bahwa tekanan dari keluarga, pernikahan dini, atau norma sosial menyebabkan banyak anak putus sekolah di tingkat SD karena penulis menyajikan data yang relevan sebagai pendukung kalimat utama.

Jika kalimat utama memiliki pernyataan yang perlu dibuktikan maka kuatkan dengan data yang mendukung pernyataan tersebut. Namun, apabila pernyataan yang dimunculkan tidak bisa dibuktikan dengan angka, maka dapat menggunakan referensi dari berbagai sumber yang relevan seperti jurnal atau penelitian terdahulu untuk menguatkan pernyataan tersebut. Seperti contoh di atas yang memperlihatkan bahwa penulis merujuk referensi (AAA, 2017) untuk menyatakan penyebab terjadinya putus sekolah. Hal ini akan menggiring pembaca untuk lebih percaya dengan apa yang kita tuliskan.

Perlu diingat bahwa bagian latar belakang bukanlah tempat untuk berargumen karena bagian ini nanti ada pada bagian pembahasan. Dengan begitu, bagian latar belakang merupakan bagian yang sejatinya berisi data, fakta, dan masalah yang diangkat.

3. State of the art

State of the art (SOTA) merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan karya terbaru yang diakui secara luas dalam suatu bidang tertentu pada saat ini. Istilah ini digunakan dalam berbagai konteks, termasuk dalam penelitian ilmiah. Dalam konteks penelitian ilmiah, "state of the art" merujuk pada penemuan, metode, atau teknologi terbaru yang memberikan kontribusi signifikan dan terkini dalam suatu bidang. SOTA dalam penelitian sering diukur melalui publikasi ilmiah, konferensi, atau penilaian oleh pakar di bidang yang relevan.

Setelah memaparkan data dan masalah, selanjutnya kita akan meramu data dan masalah tersebut dalam dua cara. Cara pertama, membandingkan data dan masalah dengan teori yang sudah ada. Cara kedua, membandingkan data dan masalah dengan penelitian terbaru yang relevan dengan data dan masalah yang diangkat. Biasanya, hal yang paling mudah adalah dengan melakukan perbandingan dengan teori yang sudah ada. 

Contohnya, 

Kita bisa menggunakan teori permintaan dan penawaran, seperti "berdasarkan teori A bahwa seharusnya seperti ini, namun fakta yang terjadi di lapangan ternyata sebaliknya." 

Apabila tidak menggunakan perbandingan teori, maka kita bisa menggunakan cara kedua yakni dengan cara menggunakan literatur atau penelitian terdahulu yang dapat menguatkan fenomena yang terjadi namun kenyataan di lapangan berbeda. Sebetulnya, pada bagian ini, penulis ingin berusaha menunjukkan bahwa masih terdapat celah pada teori atau penelitian terdahulu yang belum bisa menjawab dan menjelaskan masalah yang dikemukakan penulis.

Banyak ahli berpendapat jika latar belakang itu berisi gap antara kondisi ideal dan kondisi real di lapangan. Kemudian, penulis meramunya untuk meyakinkan pembaca bahwa topik yang diajukan layak untuk diteliti. Sebetulnya, pendapat ini menjadi salah satu bentuk dari state of the art, dimana gap yang dimaksudkan diantaranya berupa kondisi ideal vs kondisi nyata, kondisi dulu vs sekarang, teori vs fakta, dan lainnya. Perlu diingat bahwa data dan fakta perlu ditampilkan saat membuat state of the art untuk menguatkan pernyataan yang dibuat.

4. Novelty

Novelty adalah suatu konsep yang mengacu pada kebaruan, orisinalitas, atau sesuatu yang baru dan berbeda dari yang telah ada sebelumnya. Dalam konteks penelitian, novelty merujuk pada kontribusi baru yang dibawa oleh suatu studi terhadap pemahaman atau pengetahuan yang ada dalam bidang tertentu. Ini dapat berupa kontribusi baru dalam teori, metode, data, atau penemuan yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Pentingnya novelty terletak pada kontribusinya terhadap kemajuan pengetahuan dan pemahaman. Dalam penelitian, novelty menjadi salah satu kriteria penting dalam menilai kualitas suatu karya ilmiah, karena penemuan baru dapat membuka pintu bagi penemuan dan inovasi berikutnya. Namun, perlu dicatat bahwa novelty tidak berarti secara mutlak bahwa suatu konsep atau karya harus sepenuhnya baru. Terkadang, novelty dapat muncul melalui pendekatan baru, penafsiran yang berbeda, atau pengembangan lebih lanjut dari penelitian sebelumnya. Yang paling penting adalah adanya sumbangan baru dan signifikan terhadap pengetahuan dan pemahaman yang ada.

Selain itu, kunci pada tahap ini yakni memperlihatkan bahwa ada celah yang belum dijelaskan oleh teori atau penelitian terdahulu. Penulis biasanya merangkum berbagai literatur kemudian mengemukakan celah yang masih bisa digali atau masih terdapat hal yang belum dilakukan peneltian terdahulu untuk kemudian dapat diteliti.

Contoh memunculkan novelty,

"... Peneliti lain mendapati efektifitas online comunity of practice (OCoP) untuk guru dengan syarat kepastian pengelolaan OCoP disesuaikan dengan kebutuhan guru (Moodley, 2019). Selain itu, temuan lain menemukan bahwa OCoP berguna untuk mendukung professional development (PD) untuk guru prajabatan (Ekici, 2017). Beberapa studi telah membahas pelaksanaan PD untuk guru secara online (Hanewald, 2013; Ekici, 2017; Mood, 2019; Grunspan et al., 2021; McLaughlan, 2021), tetapi literatur tentang OCoP dan PD untuk guru dalam jabatan masih minim. Maka dari itu, hal ini lah yang menjadi dasar penelitian ini ..."

Contoh di atas memperlihatkan bahwa peneliti ingin meneliti PD untuk guru dalam jabatan berbasis OCoP dikarenakan penelitian yang berkaitan tentang tema ini masih sedikit. Banyak peneliti yang terkadang berpikir bahwa apabila mereka melakukan penelitian dengan tema yang sama persis dengan penelitian terdahulu namun berbeda tempat penelitian itu sudah dikatakan ada kebaruan. Padahal, itu bisa jadi bukan sebuah kebaruan jika tempat yang diteliti memiliki kesamaan karakteristik dengan penelitian sebelumnya. 

Sebetulnya ada tips yang bisa digunakan untuk memunculkan novelty, apa tipsnya?

Untuk dapat memunculkan novelty dari suatu penelitian, salah satunya bisa menggunakan sudut pandang yang berbeda. Contoh, jika peneltian terdahulu meneliti tentang tema A menggunakan sudut pandang atau pendekatan kualitatif, maka kita bisa meneliti tema yang sama dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.

5. Tujuan penelitian

Sampaikan tujuan utama dari penelitian secara spesifik dan jelas. Jelaskan apa yang ingin dicapai melalui penelitian, apakah untuk mengisi kesenjangan pengetahuan, memperluas pemahaman, menguji hipotesis, atau memberikan rekomendasi kebijakan. Tujuan di latar belakang harus menjelaskan mengapa penelitian ini penting dan relevan dalam konteks sosial, ilmiah, atau praktis. Hal ini menjelaskan manfaat yang mungkin dihasilkan dari penelitian, baik dalam hal pengetahuan baru, solusi praktis, rekomendasi kebijakan, atau kemajuan ilmiah. Selain itu, tujuan penelitian dalam latar belakang berfungsi untuk memberikan pembenaran dan rasionalisasi yang kuat untuk melaksanakan penelitian. 

Dengan menyajikan tujuan penelitian yang jelas dalam latar belakang, penulis dapat memotivasi pembaca untuk melihat pentingnya penelitian dan mengapresiasi kontribusi baru yang diharapkan. Hal ini juga membantu menetapkan dasar yang kuat untuk penelitian yang akan dilakukan dan mengklarifikasi alasan di balik pilihan topik dan metodologi penelitian.

Contoh tujuan penelitian,

"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penggunaan media gambar kartun pada pembelajaran guna meningkatkan kemampuan dalam menghitung penjumlahan bilangan pecahan pada siswa kelas 3 sekolah dasar"

Demikian lima hal yang harus ada di dalam sebuah latar belakang karya ilmiah. Dengan menyajikan elemen-elemen ini dengan baik, latar belakang karya ilmiah akan memberikan pemahaman yang kuat tentang konteks masalah dan pentingnya penelitian tersebut.

7/11/2023

Cara cek jurnal scopus ada di Q berapa

Dalam memilih jurnal scopus, terkadang kita mempertimbangkan jurnal tersebut termasuk dalam Q (quartile) berapa. Hal ini dilakukan biasanya mempertimbangkan reputasi jurnal tersebut, dimana semakin kecil Q maka semakin berkualitas juga jurnal tersebut. Nilai Q biasanya ditampilkan dalam bentuk tabel atau grafik, yang menunjukkan peringkat jurnal dalam quartile (Q1, Q2, Q3, atau Q4) berdasarkan kinerjanya dalam bidang tertentu. Quartile pertama (Q1) adalah yang tertinggi, diikuti oleh Q2, Q3, dan Q4.

Untuk memeriksa nilai Q jurnal yang terindeks di Scopus melalui Scimago Journal & Country Rank, Anda dapat mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Buka situs web Scimago Journal & Country Rank di https://www.scimagojr.com
  2. Setelah membuka situs tersebut, Anda akan melihat halaman beranda scimago
  3. Jika anda sudah memiliki judul jurnal, silakan ketikkan nama jurnal pada form pencarian lalu klik enter
  4. Silakan klik jurnal yang anda cari lalu scroll ke bawah maka anda akan menemui diagram quartile yang menunjukkan jurnal tersebut termasuk pada Q berapa
Jika anda ingin mencari jurnal berdasarkan quartile berikut ini langkah-langkahnya:
  1. Pada halaman https://www.scimagojr.com, di bagian atas halaman, temukan opsi "Journal Rangkings" 
  2. Pilih "All subject categories", contoh ketik education kemudian pilih kategori education tersebut
  3. Anda akan diperlihatkan daftar jurnal dalam kategori yang dipilih berdasarkan quartile (Q1 hingga Q4)
  4. Silakan Anda memilih jurnal mana yang diinginkan, pastikan Anda memilih jurnal yang sesuai dengan scope artikel yang ditulis

Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda dapat memeriksa nilai Q jurnal yang terindeks di Scopus melalui Scimago Journal & Country Rank. Namun perlu juga untuk memeriksa langsung ke web scopus guna memastikan bahwa jurnal tersebut masih dalam coverage scopus belum discontinued melalui langkah berikut ini.

7/10/2023

Cara cari jurnal yang terindeks scopus, anti jurnal predator

Sekarang ini, para dosen di Indonesia dituntut untuk bisa mempublikasikan karyanya dalam bentuk artikel di jurnal bereputasi, salah satunya pada jurnal yang terindeks di database scopus. Hal ini bukan tanpa alasan, jurnal-jurnal yang terindeks scopus merupakan jurnal yang memiliki reputasi yang baik karena jurnal-jurnal ini melalui peer review yang sangat ketat. Dengan demikian, menjadi suatu kebanggaan apabila artikel yang ditulis dapat publish di jurnal tersebut. 

Namun di luar sana, terdapat banyak sekali jurnal-jurnal yang menyerupai jurnal scopus ini, indikasinya terlihat dari nama yang hampir serupa atau link web jurnalnya yang hanya berbeda domain saja. Padahal sejatinya jurnal-jurnal tersebut adalah jurnal predator. Banyak sekali para dosen yang tertipu dengan jurnal predator ini dan terlanjur telah membayar sejumlah uang untuk publish.

Berdasarkan hal tersebut, penulis ingin berbagi sedikit informasi tentang pengalaman penulis untuk menghidari jurnal-jurnal predator ini dengan mencari jurnal scopus melalui langkah-langkah berikut ini:

  1. Buka situs web Scopus di https://www.scopus.com
  2. Di halaman beranda, temukan menu "Sources" di bilah menu di bagian atas halaman
  3. Di halaman "Sources", Anda akan melihat berbagai pilihan untuk melakukan pencarian jurnal. Anda dapat mencari berdasarkan nama jurnal, nama penerbit, bidang ilmu, atau bahkan ISSN (International Standard Serial Number)
  4. Pilih metode pencarian yang paling sesuai dengan informasi yang Anda miliki (cara 1 atau cara 2)
Cara 1:
  1. Jika Anda telah memiliki nama jurnal, pada halaman menu "Sources" pilih "Title" lalu masukkan nama jurnal tersebut ke dalam kotak pencarian yang disediakan
  2. Setelah Anda memasukkan informasi pencarian, tekan tombol enter atau klik cari
  3. Scopus akan menampilkan hasil pencarian yang sesuai dengan kriteria pencarian Anda. Anda dapat melihat daftar jurnal yang terkait dengan kata kunci atau informasi yang Anda masukkan
  4. Perhatikan kolom "Source Title" di hasil pencarian. Jika suatu jurnal terindeks di Scopus, Anda akan melihat judul jurnal tersebut
  5. Klik pada judul jurnal tersebut untuk melihat informasi lebih lanjut
  6. Kemudian klik "Source Homepage" untuk langsung menuju web jurnal tersebut (langkah ini memastikan kita benar-benar tertuju pada halaman jurnal yang asli sehingga terhindar dari jurnal predator)
Cara 2:
  1. Jika Anda belum memiliki nama jurnal, pada bagian halaman menu "Sources" pilih "Subject area" lalu pilih bidang yang diminati, contoh klik bidang education
  2. Setelah Anda memasukkan informasi pencarian, tekan klik apply
  3. Scopus akan menampilkan hasil pencarian yang sesuai dengan kriteria pencarian Anda. Anda dapat melihat daftar jurnal yang terkait dengan kata kunci atau informasi yang Anda masukkan
  4. Perhatikan kolom "Source Title" di hasil pencarian. Disana Anda akan melihat banyak judul jurnal yang ada di bidang pendidikan, lalu silakan cari dan tentukan jurnal yang sesuai dengan scope artikel anda
  5. Klik pada judul jurnal tersebut untuk melihat informasi lebih lanjut
  6. Kemudian klik "Source Homepage" untuk langsung menuju jurnal tersebut

Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda dapat menemukan jurnal scopus yang asli karena Anda langsung ditujukan ke link web jurnal yang asli so bye bye jurnal predator.

View My Stats