Tampilkan postingan dengan label Media Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

3/15/2021

Prosedur pengembangan media pembelajaran

A. Langkah-langkah membuat media pembelajaran

Agar media pembelajaran yang dihasilkan dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, maka perlu dilakukan langkah-langkah dalam menyusun media pembelajaran. Dalam hal ini, model ASSURE akan digunakan untuk mengembangkan media pembelajaran.

Langkah-langkah penting yang perlu dilakukan dalam pengembangan media pembelajaran menggunakan model ASSURE menurut Smaldino et al (2014) yaitu:

1. Melakukan analisis karakteristik siswa (analyze learner)

Tujuan utama dari menganalisis karakteristik siswa yakni agar guru dapat memenuhi kebutuhan belajar siswa yang utama sehingga setiap siswa mampu mendapatkan tingkatan pengetahuan dalam pembelajaran secara maksimal.

Analisis karakteristik siswa meliputi beberapa aspek penting yaitu: 

a. Karakteristik umum

Karakteristik umum pada siswa dapat ditemukan melalui variabel yang konstan yaitu umur, jenis kelamin, tingkat perkembangan, faktor sosial ekonomi, dan budaya. Semua variabel konstan tersebut, menjadi patokan dalam merumuskan strategi dan media yang tepat dalam menyampaikan bahan pembelajaran.

b. Pengetahuan atau kompetensi spesifik yang telah dimiliki sebelumnya

Pada hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan awal siswa adalah subjek patokan yang berpengaruh terhadap bagaimana dan apa yang dapat mereka pelajari lebih banyak sesuai dengan perkembangan psikologi siswa (Smaldino et al., 2014). Hal ini memudahkan dalam merancang suatu pembelajaran agar penyampaian materi pelajaran dapat diserap dengan optimal oleh siswa sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

c. Gaya belajar

Gaya belajar yang dimiliki setiap siswa berbeda-beda dan mengidentifikasi pengetahuan siswa termasuk interaksi dalam merespon emosi ketertarikan terhadap pembelajaran. (baca kembali Perencanaan dan pemilihan media pembelajaran)


2. Menetapkan tujuan pembelajaran (state objectives)

Ada beberapa alasan mengapa perlu menetapkan tujuan saat merancang rencana pembelajaran:

a. Penetapan tujuan yang jelas dapat digunakan untuk menilai efektivitas proses pembelajaran yang berhasil. Jika siswa dapat mencapai tujuannya dengan baik, maka proses pembelajaran akan berhasil.

b. Tujuan pembelajaran dapat dijadikan panduan dan pedoman dalam kegiatan belajar siswa. Oleh karena itu, guru dapat merencanakan dan mempersiapkan segala tindakan yang harus diambil untuk membantu siswa belajar.

c. Tujuan pembelajaran dapat membantu merancang sistem pembelajaran. Dengan kata lain, dengan tujuan pembelajaran yang jelas dapat membantu guru dalam menentukan topik, metode atau strategi pembelajaran, alat, media, dan sumber belajar, serta mengidentifikasi dan merancang alat penilaian untuk melihat keberhasilan belajar siswa.

d. Tujuan pembelajaran dapat dijadikan sebagai kontrol untuk menentukan batasan dan kualitas pembelajaran. Dengan kata lain, melalui penetapan tujuan, guru dapat mengontrol penguasaan keterampilan siswa sesuai dengan tujuan dan persyaratan mata pelajaran yang berlaku.

Adapun perumusan tujuan pembelajaran menurut Smaldino et al (2014) dapat menggunakan formula ABCD. (baca kembali Perencanaan dan pemilihan media pembelajaran)


3. Memilih media, metode pembelajaran, dan bahan ajar (select methods, media, and materials)

Langkah selanjutnya dalam pembelajaran efektif adalah mendukung penggunaan teknologi dan media pembelajaran dalam proses pemilihan strategi, teknologi, dan media, serta bahan ajar secara sistematis.

a. Memilih strategi pembelajaran

Pemilihan strategi pembelajaran harus disesuaikan dengan standar dan tujuan pembelajaran. Selain itu, perlu menitikberatkan pada gaya dan motivasi belajar siswa, yang nantinya dapat menunjang pembelajaran.

Strategi pembelajaran dapat mengandung ARCS yang dikembangkan oleh Smaldino et al (2014) yaitu Attention (perhatian) siswa, pembelajaran yang relevan dengan tujuan, Confident (percaya diri) yaitu desain pembelajaran dapat membantu pemaknaan pengetahuan oleh siswa, dan Satisfaction (kepuasan) dari usaha belajar siswa.

Adapun strategi pembelajaran menurut Prawiradilaga (2007) yakni sebagai berikut:

1) Belajar berbasis masalah (problem-based learning)

Metode belajar berbasis masalah dapat melatih ketajaman pola pikir metakognitif, yakni kemampuan strategis dalam memecahkan masalah.

2) Belajar berbasis proyek (project-based learning

Belajar berbasis proyek merupakan cara/ metode yang melatih kemampuan belajar siswa untuk melaksanakan suatu kegiatan di lapangan. Proyek yang dikembangkan yakni pekerjaan atau kegiatan sebenarnya atau berupa simulasi kegiatan.

3) Belajar kolaboratif

Metode belajar kolaboratif ditekankan agar siswa mampu berlatih menjadi pimpinan dan membina koordinasi antar teman sekelasnya.

b. Memilih teknologi dan media yang sesuai dengan bahan ajar

Berikut ini pemilihan format media dan sumber belajar yang disesuaikan dengan pokok bahasan atau topik menurut Smaldino et al (2014):

1) Memilih, mengubah, dan merancang materi

2) Memilih materi yang tersedia

3) Melibatkan spesialis teknologi/ media

4) Melakukan survei panduan referensi sumber dan media 

5) Mengubah materi yang ada

6) Merancang materi baru


4. Menggunakan bahan ajar (utilize material)

Sebelum menggunakan media dan bahan yang ada, langkah-langkah yang harus diikuti yaitu:

a. Preview materi

Guru harus melakukan pratinjau materi sebelum disampaikan di kelas, dan selama proses pembelajaran, guru harus menentukan materi yang sesuai untuk siswa dan memperhatikan tujuannya.

b. Siapkan bahan

Guru harus mengumpulkan semua materi dan media yang dibutuhkan oleh guru dan siswa. Guru juga harus menentukan urutan materi dan penggunaan media. Selain itu, guru harus terlebih dahulu menggunakan media untuk menentukan keadaan media.

c. Siapkan lingkungan

Guru harus secara tepat mengatur fasilitas yang digunakan siswa dari bahan dan media yang sesuai dengan lingkungannya.

d. Siswa

Memberitahukan siswa tentang tujuan pembelajaran, dengan cara, guru menjelaskan bagaimana cara agar siswa dapat memperoleh informasi dan cara mengevaluasi materinya. 

e. Memberikan pengalaman belajar

Proses belajar mengajar harus empiris, guru dapat memberikan pengalaman belajar, seperti; menggunakan proyektor untuk demonstrasi, latihan, atau tutorial sebelum kelas.


5. Melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran (require learners a participation)

Tujuan utama pembelajaran adalah memungkinkan siswa berpartisipasi dalam materi dan media yang dibuat. Guru di era teknologi saat ini perlu memiliki pengalaman dan praktik dalam penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi, bukan sekadar memahami dan memberikan informasi kepada siswa. Hal ini sesuai dengan pandangan konstruktivis bahwa belajar merupakan proses psikologis yang positif berdasarkan pengalaman nyata, dimana siswa akan mendapatkan umpan balik yang berguna untuk mencapai tujuan belajarnya.


6. Mengevaluasi dan merevisi program pembelajaran (evaluate and revise)

Evaluasi dan revisi merupakan aspek yang sangat mendasar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dapat didasarkan pada:

a. Penilaian hasil belajar siswa

b. Penilaian hasil belajar portofolio

c. Penilaian hasil belajar yang tradisional/ elektronik

d. Menilai dan memperbaiki strategi, teknologi dan media

Ada beberapa fungsi dari evaluasi antara lain:

a. Evaluasi merupakan alat yang penting sebagai umpan balik bagi siswa

b. Evaluasi merupakan alat yang penting untuk mengetahui bagaimana ketercapaian siswa dalam menguasai tujuan yang telah ditentukan

c. Evaluasi dapat memberikan informasi untuk mengembangkan program kurikulum

d. Informasi dari hasil evaluasi dapat digunakan siswa secara individual dalam mengambil keputusan

e. Evaluasi berguna untuk para pengembang kurikulum khususnya dalam menentukan tujuan khusus yang ingin dicapai

f. Evaluasi berfungsi sebagai umpan balik untuk orang tua, guru, pengembang kurikulum, dan pengambil kebijakan


B. Aplikasi media pembelajaran 

Adapun aplikasi yang dapat digunakan untuk membuat media pembelajaran presentasi seperti Ms.Powerpoint, Focusky, dll. Sedangkan aplikasi yang dapat dimanfaatkan untuk membangun media pembelajaran berbasis web seperti Edlink, Google Classroom, dll.


Referensi

Smaldino, S. E., Lowther, D. L., & Russell, J. D. (2014). Instructional Technology and Media for Learning. London: Pearson.

Prawiradilaga, D. S., & Siregar, E. (2007). Mozaik teknologi pendidikan. Jakarta: Kencana.




3/08/2021

Perencanaan dan pemilihan media pembelajaran

Media pembelajaran berfungsi sebagai sarana dalam menyampaikan informasi atau pesan yang dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Susilana dan Riyana (2009) menjabarkan langkah-langkah perencanaan media pembelajaran sebagai berikut:

A. Sistematika Perencanaan Media Pembelajaran

1. Identifikasi kebutuhan dan karakteristik siswa

Sebuah perencanaan media didasarkan atas kebutuhan (need). Salah satu indikator adanya kebutuhan karena didalamnya terdapat kesenjangan (gap). Kesenjangan merupakan ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya atau apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi. Dalam pembelajaran yang dimaksud dengan kebutuhan merupakan adanya kesenjangan antara kemampuan, keterampilan dan sikap siswa yang diharapkan pada kemampuannya, keterampilannya dan sikapnya.

Guru yang kreatif harus mampu menciptakan sebuah media. Kesesuaian media dengan siswa menjadi dasar pertimbangan utama, sebab diperlukan informasi tentang gaya belajar siswa atau learning style. Beberapa learning style yang dapat diidentifikasi dari siswa adalah; (1) Tactile/kinesthetic, para siswa memperoleh hasil belajar optimal apabila disibukkan dengan suatu aktivitas. Mereka tidak ingin hanya membaca tetapi ikut terlibat langsung melakukan sendiri; (2) Visual/perceptual, para siswa memperoleh hasil belajar yang optimal dengan penglihatan sebab pelajar tipe visual selalu ingin melihat gambar, diagram, flow chart, timeline, film, dan demonstrasi; (3) Auditory, pelajar menyukai informasi dengan format bahasa lisan. Hasil belajar diperoleh melalui mendengarkan ceramah kuliah dan mengambil bagian pada diskusi kelompok; (4) Aktif Versus Reflektif Aktif, pelajar cenderung untuk mempertahankan dan memahami informasi yang terbaik dengan melakukan sesuatu secara aktif dengan mendiskusikan pada orang lain; (5) Reflektif, pelajar yang suka memikirkan sesuatu dengan tenang “Mari kita pikirkan terlebih dulu” adalah tanggapan pelajar yang reflektif; (6) Sequential Versus Global Sequential, pelajar menyukai untuk berproses step-by-step terhadap suatu cara dan hasil akhir yang sempurna;  (7) Global, pelajar yang menyukai suatu ikhtisar atau “gambaran besar” dari apa yang mereka akan lakukan sebelum menuju pembelajaran dengan proses yang kompleks.

2. Perumusan tujuan instruksional (instructional objective)

Tujuan menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kegiatan karena dengan tujuan akan mempengaruhi arah dan tindakan. Tujuan yang baik yaitu jelas, terukur, operasional, tidak mudah untuk dirumuskan oleh guru, diperlukan latihan, penelaahan terhadap kurikulum, dan pengalaman saat melakukan pembelajaran di kelas. Adapun ketentuan perumusan tujuan yaitu: 

a. Learned oriented, dalam merumuskan tujuan harus berdasarkan pada perilaku siswa

b. Operational, perumusan tujuan yang dibuat harus spesifik dan operasional sehingga mudah untuk mengukur tingkat keberhasilannya

c. Formula teknik perumusan tujuan pembelajaran dengan rumus ABCD yaitu:

1) Audience merupakan sasaran yang perlu dijelaskan secara spesifik agar jelas untuk siapa tujuan diberikan. Contoh audience: siswa SD, SMP, SMA, mahasiswa, dll.

2) Behavior merupakan perilaku spesifik yang diharapkan untuk dimunculkan oleh siswa setelah pembelajaran. Contoh behavior: menjelaskan, menyebutkan, merincikan, mengidentifikasi, memberikan contoh dan sebagainya.

3) Conditioning merupakan keadaan yang harus dipenuhi atau dikerjakan siswa pada saat dilakukan pembelajaran. Contoh conditioning: mengamati.

4) Degree merupakan batas minimal tingkat keberhasilan terendah yang harus dipenuhi dalam mencapai perilaku yang diharapkan. Penentuan ini tergantung pada jenis bahan materi. Contoh degree: batas minimal nilai. 

3. Perumusan butir-butir materi yang terperinci

Titik tolak perumusan materi pembelajaran merupakan dari rumusan tujuan. Materi perlu disusun dengan memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut:

a. Sahih atau valid, maksudnya materi yang digunakan pada media pembelajaran sudah benar-benar teruji kebenarannya dan kesahihannya

b. Tingkat kepentingan (significant), maksudnya dalam memilih materi perlu dipertimbangkan sejauh mana materi yang disampaikan penting untuk dipelajari? penting untuk siapa?

c. Kebermanfaatan (utility), maksudnya kebermanfaatan harus dipandang dari dua sudut pandang yakni kebermanfaatan secara akademis dan non akademis untuk berdampak manfaat untuk meningkatkan kemampuan siswa serta menjadi bekal softskill

d. Learnability yaitu sebuah program yang dipelajari baik dari aspek tingkat kesulitannya (tidak terlalu mudah ataupun sulit) dan bahan ajar yang digunakan harus layak sesuai dengan kebutuhan

e. Menarik minat (interest), maksudnya materi yang digunakan harus menarik minat dan memotivasi siswa untuk mempelajarinya lebih lanjut

4. Mengembangkan alat pengukur keberhasilan

Alat pengukur keberhasilan belajar ini perlu dikembangkan dengan berpijak pada tujuan yang telah dirumuskan dan harus sesuai dengan materi yang disiapkan. Alat pengukur ini mengukur tiga kemampuan utama yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang telah dirumuskan secara rinci dalam tujuan. Oleh karena itu, terdapat hubungan yang erat dengan tujuan, materi, dan tes pengukur keberhasilan, sebagai berikut:


Pada gambar diatas dijelaskan bahwa hubungan antara tujuan, materi, dan tes. Dalam penyusunannya, materi didasarkan atas rumusan tujuan, setelah materi selesai dirumuskan selanjutnya membuat item tes berdasarkan tujuan dan materi.

5. Penulisan garis besar program media (GBPM) 

GBPM merupakan petunjuk yang dijadikan pedoman oleh para penulis naskah di dalam penulisan naskah program media yang mengacu pada analisis kebutuhan, tujuan, dan materi. GBPM cocok dibuat dalam video yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan psikomotorik yang memerlukan penjelasan visual. Adapun manfaat dari GBPM ini yaitu terjadinya persamaan persepsi, efisien, efektif, motivasi, dan rekreatif.


B. Kriteria Pemilihan Media

Memilih media hendaknya tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan didasarkan atas kriteria tertentu. Kesalahan pada saat pemilihan, baik pemilihan jenis media maupun pemilihan topik yang dimediakan akan membawa akibat panjang yang tidak diinginkan. Banyak pertanyaan yang harus kita jawab sebelum kita menentukan pilihan media tertentu. Secara umum, kriteria yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media pembelajaran diuraikan sebagai berikut:

1. Tujuan

Apa tujuan pembelajaran (standar kompetensi dan kompetensi dasar) yang ingin dicapai? Apakah tujuan itu masuk ranah kognitif, afektif, psikomotor, atau kombinasinya? Jenis rangsangan indera apa yang ditekankan: apakah penglihatan, pendengaran, atau kombinasinya? Jika visual, apakah perlu gerakan atau cukup visual diam? Jawaban atas pertanyaan itu akan mengarahkan kita pada jenis media, apakah media audio, visual diam, visual gerak, audio visual gerak dan seterusnya.

2. Sasaran didik

Siapakah sasaran didik yang akan menggunakan media? Bagaimana karakteristik mereka, berapa jumlahnya, bagaimana latar belakang sosialnya, bagaimana motivasi dan minat belajarnya? Apabila kita mengabaikan kriteria ini, maka media yang kita pilih atau kita buat tentu tak akan banyak gunanya. Mengapa? Karena pada akhirnya sasaran inilah yang akan mengambil manfaat dari media pilihan kita . Oleh karena itu, media harus sesuai dengan kondisi mereka.

3. Karakteristik media yang bersangkutan

Bagaimana karakteristik media tersebut? Apa kelebihan dan kelemahannya, sesuaikah media yang akan kita pilih itu dengan tujuan yang akan dicapai? Kita tidak akan dapat memilih media dengan baik jika kita tidak mengenal dengan baik karakteristik masing-masing media. Karena kegiatan memilih pada dasarnya adalah kegiatan membandingkan satu sama lain, mana yang lebih baik dan lebih sesuai dibanding yang lain. Oleh karena itu, sebelum menentukan jenis media tertentu, pahami dengan baik bagaimana karakteristik media tersebut.

4. Waktu

Yang dimaksud waktu di sini adalah berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengadakan atau membuat media yang akan kita pilih, serta berapa lama waktu yang tersedia/ yang kita memiliki, pertanyaan lain adalah berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyajikan media tersebut dan berapa lama lokasi waktu yang tersedia dalam proses pembelajaran? Tak ada gunanya kita memilih media yang baik, tetapi kita tidak cukup waktu untuk membuatnya.

5. Biaya

Faktor biaya juga merupakan pertanyaan penentu dalam memilih media. Bukankah penggunaan media pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Apalah artinya kita menggunakan media, jika akibatnya justru pemborosan. Oleh sebab itu, faktor biaya menjadi kriteria yang harus kita pertimbangkan. Berapa biaya yang kita perlukan untuk membuat, membeli atau menyewa media tersebut? Bisakah kita mengusahakan biaya tersebut? Apakah besarnya biaya seimbang dengan tujuan belajar yang hendak dicapai? Adakah alternatif media lain yang lebih murah namun tetap dapat mencapai tujuan belajar? Media yang mahal belum tentu lebih efektif untuk mencapai tujuan belajar dibandingkan media sederhana dan murah.

6. Ketersediaan

Kemudahan dalam memperoleh media juga menjadi pertimbangan. Adakah media yang kita butuhkan itu di sekitar kita, di sekolah atau di pasaran? Kalau kita harus membuatnya sendiri, adakah kemampuan, waktu, tenaga, dan sarana untuk membuatnya? Jika semua itu ada, pertanyaan berikutnya adalah bersediakah sarana yang diperlukan untuk menyajikannya di kelas? Misalnya, untuk menjelaskan tentang proses terjadinya gerhana matahari memang lebih efektif disajikan melalui media video. Namun karena di sekolah tidak ada video player, maka sudah cukup bila digunakan alat peraga gerhana matahari.

7. Konteks penggunaan

Konteks penggunaan maksudnya adalah dalam kondisi dan strategi bagaimana media tersebut akan digunakan. Misalnya: apakah untuk belajar individual, kelompok kecil, kelompok besar atau masal? Dalam hal ini, kita perlu merencanakan strategi pembelajaran secara keseluruhan yang akan kita gunakan dalam proses pembelajaran, sehingga tergambar kapan dan bagaimana konteks penggunaan media tersebut dalam pembelajaran.

8. Mutu teknis

Kriteria ini terutama untuk memilih/ membeli media siap pakai yang telah ada, misalnya program audio, video, grafis, atau media cetak lain. Bagaimana mutu teknis media tersebut, apakah visual jelas, menarik, dan cocok? Apakah suaranya jelas dan enak didengar? Jangan sampai hanya karena keinginan kita untuk menggunakan media saja, lantas media yang kurang bermutu kita paksakan penggunaannya.


C. Prosedur Pemilihan Media Pembelajaran

Pemilihan media yaitu memilih atau mengelompokkan bahan ajar mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai. Pemilihan media harus didasarkan pada prinsip-prinsip yang telah ditetapkan, seperti memiliki tujuan yang sesuai dengan sifat dan karakteristik media yang akan digunakan. Selain itu, pemilihan media harus sesuai dengan tujuan, selain konsisten dalam memilih media, guru juga harus mengukur kemampuannya dalam menguasai media. Setelah memahami beberapa pendapat mengenai pemilihan media tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemilihan media dilakukan sebelum kegiatan mengajar dimulai dan harus sesuai dengan tujuan perancangan dari awal hingga akhir. Seiring kemajuan teknologi, guru harus mampu menguasai media yang mereka pilih untuk digunakan oleh siswa.

Pemilihan media pembelajaran harus memperhatikan faktor-faktor berikut ini:

1. Dana/ material

Kebanyakan guru di sekolah tidak menggunakan media untuk mempermudah siswa dalam mempelajari suatu materi pelajaran, dikarenakan dana yang dibutuhkan cukup mahal, sedangkan sekolah tidak memfasilitasi dengan baik maka guru harus benar-benar pandai dalam membuat media agar tidak menghabiskan dana yang mahal, seperti guru memanfaatkan barang-barang bekas dalam pembuatan media.

2. Materi pelajaran

Selain dana, guru juga harus memperhatikan materi pembelajaran, karena berbeda materi maka medianya pun juga berbeda. Sebelum menentukan media, guru harus mengurutkan materi dan menggabungkan materi agar saling berkesinambungan.

3. Siswa

Faktor selanjutnya, yang harus diperhatikan yaitu siswa. Pemahaman setiap individu dengan individu lainnya itu berbeda, ada siswa yang gemar menggambar, menulis, mendengarkan, dan sebagainya. Dengan demikian, guru harus membuat media semenarik mungkin agar perhatian semua siswa yang memiliki karakter yang berbeda-beda itu tertuju pada media tersebut dengan rasa senang dan gembira.

4.  Jenis-jenis media

Guru dalam memilih media harus menentukan jenis media yang akan digunakan. Jenis-jenis media antara lain ada audio, visual, audio visual dan alat peraga. Dengan adanya jenis media, guru bisa melakukan stimulus respon pada siswa dengan baik.


Referensi

Susilana, R., & Riyana, C. (2009). Media Pembelajaran: Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Penilaian. Bandung: CV Wacana Prima.

3/01/2021

Model pengembangan media pembelajaran

Untuk mengembangkan pembelajaran, kita perlu mempertimbangkan model pengembangan untuk memastikan kualitasnya. Penggunaan model pengembangan digunakan untuk mengembangkan bahan ajar secara sistematis dan sesuai dengan teori sehingga menjamin kualitas isi bahan ajar. Berikut ini beberapa model pengembangan yang umumnya digunakan dalam pengembangan media pembelajaran (Yaumi, 2018): 

A. Model ASSURE

Smaldino et al. (2014) mengemukakan model ASSURE fokus kepada perencanaan pembelajaran untuk digunakan dalam situasi pembelajaran di dalam kelas secara aktual. Adapun langkah-langkah penting yang perlu dilakukan dalam model sistem pembelajaran ASSURE meliputi beberapa aktivitas, yaitu;

1. Melakukan analisis karakteristik siswa (analyze learner)

2. Menetapkan tujuan pembelajaran (state objectives)

3. Memilih media, metode pembelajaran, dan bahan ajar (select methods, media, and materials)

4. Memanfaatkan bahan ajar (utilize material)

5. Melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran (require learners a participation), dan

6. Mengevaluasi dan merevisi program pembelajaran (evaluate and revise)

Untuk lebih memahami model ASSURE, berikut ini dikemukakan deskripsi dari setiap komponen yang terdapat dalam model tersebut.

Analyze Learner Characteristics

(Analisis siswa)

Mengidentifikasi karakteristik siswa yang akan melakukan aktivitas pembelajaran. Analisis karakteristik siswa meliputi beberapa aspek penting yaitu karakteristik umum, pengetahuan atau kompetensi spesifik yang telah dimiliki sebelumnya, dan gaya belajar.

State Standard and Objectives

(Menentukan standar dan tujuan)

Menetapkan tujuan pembelajaran yang bersifat spesifik. Selain menggambarkan kompetensi yang perlu dikuasai oleh siswa, rumusan tujuan pembelajaran juga mendeskripsikan kondisi yang diperlukan oleh siswa untuk menunjukkan hasil belajar yang telah dicapai dan tingkat penguasaan siswa.

Select Methods, Media, and Materials

(Memilih metode, media dan bahan ajar)

Pemilihan metode, media, dan bahan ajar yang tepat akan mampu mengoptimalkan hasil belajar siswa dan membantu siswa mencapai kompetensi atau tujuan pembelajaran.

Utilize Resources (Memanfaatkan Sumber Daya)

Menggunakan metode sebelumnya dalam kegiatan pembelajaran, namun sebelum menggunakan metode, media, dan bahan ajar, maka perlu dilakukan uji coba untuk memastikan ketiga komponen tersebut dapat berfungsi efektif. Setelah semuanya siap maka komponen tersebut dapat digunakan.

Require Learners Participation

(Mewajibkan Partisipasi Peserta)

Memerlukan keterlibatan siswa secara aktif dengan materi atau substansi yang sedang dipelajari. Siswa yang terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran akan dengan mudah mempelajari materi pembelajaran.

Evaluate and Revise

(Evaluasi dan Revisi)

Tahap evaluasi dilakukan untuk menilai efektivitas pembelajaran dan juga hasil belajar siswa. Tahap ini dilakukan agar dapat memperoleh gambaran yang lengkap tentang kualitas sebuah program.

Namun menurut Prawiradilaga & Siregar (2007) terdapat beberapa manfaat dan keterbatasan pada model ASSURE, manfaatnya yaitu; pertama, memiliki manfaat dapat dikembangkan sendiri oleh guru; kedua, komponen pembelajaran lengkap; dan ketiga, siswa dapat dilibatkan dalam persiapan untuk pembelajaran. Selanjutnya model ini juga memiliki keterbatasan yakni; tidak mengukur dampak terhadap proses belajar karena tidak didukung oleh komponen suprasistem; adanya penambahan tugas dari guru; dan perlu upaya khusus dalam mengarahkan siswa untuk persiapan pembelajaran.


B. Model PIE

Model PIE merupakan akronim dari Plan, Implement, dan Evaluate. Model ini dikembangkan oleh Timothy J. Newby, Donald A. Stepich, James D. Lehman, James D. Russell, dan Anne Ottenbreit-Leftwoch melalui buku “Educational technology for teaching and learning (2011)”. Model ini dikhususkan untuk pengembangan teknologi pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran.

Pertama, perencanaan difokuskan pada apa yang sesungguhnya siswa butuhkan untuk belajar termasuk kapan, mengapa, dan bagaimana cara yang efektif untuk mendapatkan hasil belajar yang baik dan berkualitas. Hasil akhir dari perencanaan adalah produk berupa ikhtisar, perencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), atau cetak biru (blue print) dari pengalaman belajar yang dapat mengarahkan tujuan pembelajaran. Perencanaan dilakukan untuk membantu pengembang pembelajaran dalam menggambarkan secara jelas tentang pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki siswa sebelum melaksanakan pembelajaran dan pengetahuan dan keterampilan yang seharusnya dimiliki oleh mereka, serta jenis media dan teknologi, bahan, dan strategi pembelajaran untuk meminimalisasi kesenjangan antara pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki saat ini dengan yang seharusnya dikuasai.


Kedua, implementasi atau pelaksanaan difokuskan pada meletakkan perencanaan dalam tindakan berdasarkan kendala dan hambatan yang mungkin terjadi dengan menggunakan bahan pembelajaran yang telah dipilih sebelumnya, dan berbagai bentuk aktivitas yang menunjang pelaksanaan pembelajaran. Bagi siswa, implementasi merupakan suatu pengalaman belajar yang dilaksanakan dengan memperhatikan lingkungan belajar, waktu, dan cara atau metode yang digunakan dalam pembelajaran. Bagi guru, pada implementasi diarahkan pada bagaimana mengelola dan mengawasi pembelajaran termasuk melaksanakan pembelajaran yang dapat menjangkau kelompok siswa dengan kebutuhan khusus.

Ketiga, evaluasi difokuskan dalam menilai efektivitas media, teknologi, strategi, dan bahan pembelajaran yang dilakukan. Pendidikan hendaknya melakukan refleksi terhadap apa yang telah dicapai dan membandingkan dengan tujuan yang hendak dicapai. Hasil revisi ini digunakan untuk merevisi perencanaan dan implementasi pembelajaran pada masa yang akan datang agar mendapatkan hasil yang memuaskan. 

Perencanaan, implementasi, dan evaluasi merupakan komponen yang digunakan untuk mengembangkan pembelajaran, khususnya media dan teknologi sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal.


C. Model Roblyer

Model ini dikenal dengan model TIP yang merupakan akronim Technology Integration Planning (Perencanaan Integrasi Teknologi). Model TIP ini dikembangkan oleh M. D. Roblyer pada tahun 2003, Model TIP merupakan cara sistematis untuk mengintegrasikan media dan teknologi ke dalam pembelajaran melalui lima fase yakni:

1. Menentukan keuntungan relatif

Fase pertama model TIP merupakan penentu keuntungan yang mengintegrasikan media dan teknologi ke dalam pembelajaran. Hal ini penting untuk mengetahui berbagai aspek yang memungkinkan integrasi dilakukan termasuk mengkaji beberapa aspek seperti (Rogers, 2003): 

a. Kesesuaian (compatibility

Kesesuaian integrasi teknologi ke dalam pembelajaran yang memungkinkan seorang pengembang mendapatkan informasi secara komprehensif tentang nilai-nilai budaya, keyakinan, dan kepercayaan yang dianut termasuk pandangan orang, lembaga, atau institusi tentang perlu atau tidaknya media teknologi itu dikembangkan dalam pembelajaran.

b. Kesulitan (complexity

Tingkat kesulitan pengguna media dan teknologi juga perlu dikaji secara mendalam, pembelajaran yang menggunakan alat bantu teknologi harus betul-betul menghasilkan pembelajaran yang efektif dan efisien. Efektif artinya melakukan aktivitas pembelajaran dengan menggunakan media dan teknologi dengan tepat sesuai tujuan. Sedangkan efisien artinya melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media dan teknologi dengan waktu yang ringkas.

c. Keterujian (trialability)  

Keterujian yang merujuk pada kemudahan untuk melakukan uji coba terlebih dahulu sebelum digunakan secara menyeluruh.

d. Keteramatan (observability)

Keteramatan merupakan bentuk pengamatan langsung melihat bagaimana seseorang menggunakan suatu inovasi baru termasuk kesiapan berbagai komponen dalam organisasi untuk mendukung proses integrasi media dan teknologi dalam pembelajaran.

Selanjutnya perlu mempertimbangkan kemungkinan adanya suatu; (a) topik atau tujuan kurikulum yang sulit diajarkan tanpa menggunakan media atau teknologi; (b) jenis media dan teknologi yang menjadi solusi terhadap permasalahan kesulitan pelaksanaan pembelajaran; (c) keuntungan menerapkan solusi berbasis teknologi; dan (d) kemungkinan adanya alternatif lain untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif terkait dengan pemanfaatan teknologi mutakhir maupun jenis teknologi sederhana untuk keberlangsungan pembelajaran.

2. Menentukan tujuan

Pada tahap ini guru menentukan pengetahuan dan keterampilan yang ingin dipelajari oleh siswa sekaligus menetapkan instrumen penilaian untuk mengukur dan menilai pelajaran yang telah diperoleh siswa dengan menggunakan media dan teknologi yang telah diintegrasikan. 

3. Merancang strategi integrasi

Pada bagian ini guru perlu menentukan strategi mengajar dan bentuk aktivitas yang sesuai dengan karakteristik siswa. Dalam strategi integrasi media dan teknologi, perlu mempertimbangkan seperti: (1) karakteristik topik-topik bahan pembelajaran, (2) kebutuhan siswa, dan (3) metode yang sesuai dengan lingkungan belajar.

4. Menyediakan lingkungan belajar

Penyediaan lingkungan belajar merujuk pada pengaturan dan pengelolaan tempat, sarana dan prasarana yang memungkinkan diterapkan teknologi secara efektif dalam pembelajaran. Kemudahan penggunaan teknologi secara efektif dalam pembelajaran ditentukan oleh penyediaan perangkat lunak dan perangkat keras, serta dukungan teknis dari pengambil kebijakan.

5. Mengevaluasi dan merevisi

Setelah semua terlaksana, langkah selanjutnya adalah melakukan revisi berdasarkan berbagai kelemahan dan keterbatasan yang ada. Pengembang dapat mengkaji apa yang telah berjalan dengan baik dan yang harus diperbaiki. Selanjutnya melakukan revisi berdasarkan berbagai kelemahan dan keterbatasan yang ada.

Dengan demikian, penggunaan teknologi dapat memberi kontribusi positif dalam meningkatkan hasil belajar dan kualitas siswa yang mumpuni dalam berbagai mata pelajaran.


D. Model Hannafin dan Peck

Model Hannafin dan Peck merupakan model desain pengembangan pembelajaran yang terdiri dari tiga fase yaitu fase penilaian kebutuhan, fase desain, dan fase pengembangan dan implementasi (Hannafin & Peck 1988). Dalam model ini, penilaian dan pengulangan perlu dijalankan dalam setiap fase. 

Model ini adalah model desain pembelajaran yang berbasiskan komputer dalam membangun aktivitas pembelajaran. Bagan di bawah ini menunjukkan tiga fase utama dalam model Hannafin dan Peck (1988).


1. Fase pertama adalah penilaian kebutuhan 

Tujuan penilaian kebutuhan untuk mengartikan secara spesifik dari sebuah produk. Fase ini diperlukan untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dalam mengembangkan suatu media pembelajaran termasuk di dalamnya tujuan dan objektif media pembelajaran yang dibuat, pengetahuan dan kemahiran yang diperlukan oleh kelompok sasaran, peralatan dan keperluan media pembelajaran. Setelah semua keperluan diidentifikasi, Hannafin dan Peck (1988) menekankan untuk menjalankan penilaian terhadap hasil itu sebelum meneruskan ke fase desain.

2. Fase yang kedua adalah fase desain

Tujuan tahap desain untuk mengidentifikasi dan mengumpulkan alat-alat, bahan, dan sumber yang digunakan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Salah satu dokumen yang dihasilkan dalam fase ini yakni dokumen story board yang mengikut urutan aktivitas pengajaran berdasarkan keperluan pelajaran dan objektif media pembelajaran. Seperti halnya pada fase pertama, penilaian perlu dijalankan dalam fase ini sebelum dilanjutkan ke fase pengembangan dan implementasi.

3. Fase ketiga adalah fase pengembangan dan implementasi 

Hannafin dan Peck (1988) menyatakan bahwa aktivitas yang dilakukan pada fase ini adalah menghasilkan diagram alir, pengujian, serta penilaian formatif dan penilaian sumatif. Dokumen story board akan dijadikan landasan bagi pembuatan diagram alir yang dapat membantu proses pembuatan media pembelajaran. Untuk menilai kelancaran media yang dihasilkan, penilaian dan pengujian dilaksanakan pada fase ini. Hasil dari proses penilaian dan pengujian ini akan digunakan dalam proses penyesuaian untuk mencapai kualitas media yang dikehendaki.

Model Hannafin dan Peck (1988) menekankan proses penilaian dan pengulangan harus mengikutsertakan proses-proses pengujian dan penilaian media pembelajaran yang melibatkan ketiga fase secara berkesinambungan. Lebih lanjut Hannafin dan Peck (1988) menyebutkan dua jenis penilaian yaitu penilaian formatif dan penilaian sumatif. Penilaian formatif adalah penilaian yang dilakukan sepanjang proses pengembangan media sedangkan penilaian sumatif dilakukan setelah media telah selesai dikembangkan.


Referensi

Yaumi, M. (2018). Media & Teknologi Pembelajaran. Jakarta: Kencana.

Smaldino, S. E., Lowther, D. L., & Russell, J. D. (2014). Instructional Technology and Media for Learning. London: Pearson.

Prawiradilaga, D. S., & Siregar, E. (2007). Mozaik teknologi pendidikan. Jakarta: Kencana.

Rogers, E. M. (2003). Diffusion of Innovations. New York: Free Press.

Hannafin, M. J., & Peck, K. L. (1988). The Design, Development, and Evaluation of Instructional Software. New York: Macmillan Publishing Company.


2/21/2021

Klasifikasi media pembelajaran

Susilana dan Riyana (2009) menganalisis media melalui bentuk penyajian dan cara penyajiannya yakni dengan mengklasifikasi media pembelajaran yaitu; (a) Kelompok kesatu: grafis, bahan cetak, dan gambar diam; (b) Kelompok kedua: media proyeksi diam; (c) Kelompok ketiga: media audio; (d) Kelompok keempat: media audio visual diam; (e) Kelompok kelima: film; (f) Kelompok keenam: televisi; (g) Kelompok ketujuh: multi media. Berikut ini penjabaran klasifikasi media pembelajaran menurut Susilana dan Riyana (2009) yaitu:

A. Kelompok kesatu (media grafis, bahan cetak dan gambar diam)

1. Media grafis

Media grafis merupakan media visual yang menyajikan fakta, ide atau gagasan melalui penyajian kata-kata, kalimat, angka-angka, dan simbol/gambar. Media grafis digunakan untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, dan mengilustrasikan fakta-fakta sehingga menarik dan diingat orang. Adapun yang termasuk dengan media grafis yaitu:

a. Grafik adalah penyajian data berangka melalui perpaduan antara angka, garis, dan simbol.

b. Diagram adalah gambaran yang sederhana yang dirancang untuk memperlihatkan hubungan timbal balik yang biasanya disajikan melalui garis-garis simbol.

c. Bagan adalah perpaduan sajian kata-kata, garis, dan simbol yang merupakan ringkasan atau proses, perkembangan, atau hubungan-hubungan penting.

d. Sketsa adalah gambar yang sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian-bagian pokok dari suatu bentuk gambar.

e. Poster adalah sajian kombinasi visual yang jelas, mencolok, dan menarik dengan maksud untuk menarik perhatian orang yang melihat.

f. Papan Flanel adalah papan yang berlapis kain flanel untuk menyajikan gambar atau kata-kata yang mudah ditempel dan mudah untuk dilepas.

g. Bulletin Board adalah papan biasa tanpa dilapisi kain flanel. Gambar-gambar atau tulisan-tulisan biasanya langsung ditempelkan dengan menggunakan lem atau penempel lainnya.

Sedangkan untuk kelebihan dan kekurangan pada media grafis yaitu:

Kelebihan

Kekurangan

Mempermudah dan mempercepat pemahaman siswa terhadap pesan yang disajikan

Membutuhkan keterampilan khusus dalam pembuatannya, terutama untuk grafis yang lebih kompleks

Dapat dilengkapi dengan warna-warna sehingga lebih menarik perhatian siswa

Penyajian pesan hanya berupa unsur visual

Pembuatannya mudah dan harga murah

 


2. Bahan cetak

Media bahan cetak adalah media visual yang pembuatannya melalui proses pencetakan atau offset. Media bahan cetak ini menyajikan pesannya melalui huruf dan gambar-gambar yang diilustrasikan untuk lebih memperjelas pesan atau informasi yang akan disajikan.

Jenis media bahan cetak ini diantaranya:

a. Buku teks adalah buku tentang suatu bidang studi atau ilmu tertentu yang disusun untuk memudahkan para guru dan siswa dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran. Penyusunan buku teks ini disesuaikan dengan urutan (sequence) dan ruang lingkup (scope) tiap bidang ilmu tertentu.

b. Modul adalah paket program yang disusun dalam bentuk satuan tertentu dan didesain sedemikian rupa guna kepentingan belajar siswa. Satu paket modul biasanya memiliki komponen petunjuk guru, lembaran kegiatan siswa, lembaran kerja siswa, kunci lembaran kerja, dan lembaran tes.

c. Bahan pengajaran terprogram adalah paket program pembelajaran individual, hampir sama dengan modul. Perbedaannya dengan modul yakni bahan pengajaran terprogram disusun dalam topik-topik kecil untuk setiap bingkai/ halamannya. Satu halaman biasanya berisi informasi yang merupakan bahan ajaran, pertanyaan, dan respon dari pertanyaan halaman lain.

Sedangkan untuk kelebihan dan kekurangan pada media bahan cetak yaitu:

Kelebihan

Kekurangan

Dapat menyajikan pesan atau informasi dalam jumlah yang banyak

Proses pembuatannya membutuhkan waktu yang cukup lama

Pesan atau informasi dapat dipelajari oleh siswa sesuai dengan kebutuhan, minat, dan kecepatan masing-masing

Bahan cetak yang tebal mungkin dapat membosankan dan mengurangi minat siswa untuk membacanya

Dapat dipelajari kapan dan dimana saja karena mudah dibawa

Apabila jilid dan kertasnya kurang bagus maka bahan cetak akan mudah rusak dan sobek

Akan lebih menarik apabila dilengkapi dengan gambar dan warna

 

Perbaikan/ revisi mudah dilakukan

 


3. Gambar diam

Media gambar diam merupakan media visual yang berupa gambar yang dihasilkan melalui proses fotografi. Jenis media gambar ini adalah foto.

Sedangkan untuk kelebihan dan kekurangan pada media gambar diam yaitu:

Kelebihan

Kekurangan

Dibandingkan dengan grafis, media foto ini lebih terlihat konkret

Biasanya ukurannya terbatas sehingga kurang efektif untuk pembelajaran kelompok besar

Dapat menunjukkan perbandingan yang tepat dari objek yang sebenarnya

Perbandingan yang kurang tepat dari suatu objek akan menimbulkan kesalahan persepsi

Pembuatannya mudah dan harga relatif murah

 


B. Kelompok kedua (media proyeksi diam)

Media proyeksi diam merupakan media visual yang diproyeksikan atau media yang memproyeksikan pesan, dimana hasil proyeksinya tidak bergerak atau memiliki sedikit unsur gerakan. Jenis media ini diantaranya yaitu OHP/OHT, opaque projector, slide, dan film-strip.

1. Media OHP dan OHT

OHP (Overhead Transparency) merupakan media visual yang diproyeksikan melalui alat proyeksi yang disebut OHP (Overhead Projector). OHT terbuat dari bahan transparan yang biasanya berukuran 8,5 X 11 inci.

ada tiga jenis bahan yang dapat digunakan sebagai OHT:

a. Write on Film (plastik transparansi) adalah transparansi yang dapat dituliskan atau digambarkan secara langsung dengan menggunakan spidol.

b. PPC (Plain Paper Copier) transparency film adalah jenis transparansi yang dapat diberi tulisan atau gambar dengan menggunakan mesin photocopy.

c. Infrared transparency film adalah jenis transparansi yang dapat diberi tulisan atau gambar dengan menggunakan mesin thermofax.

Sedangkan OHP (Overhead Projector) merupakan media yang digunakan untuk memproyeksikan program-program transparansi pada sebuah layar. Biasanya alat ini digunakan untuk menggantikan papan tulis.

Ada dua jenis model OHP (Overhead Projector) yaitu:

a. OHP Classroom adalah OHP yang dirancang dan dibuat secara permanen untuk disimpan di suatu kelas atau ruangan. Biasanya memiliki bobot yang lebih berat dibandingkan dengan OHP jenis Portable.

b. OHP Portable adalah OHP yang dirancang mudah untuk mobilitas tinggi sehingga ukuran dan bobot beratnya lebih ringan.

Sedangkan untuk kelebihan dan kekurangan pada media OHP dan OHT yaitu:

Kelebihan

Kekurangan

Digunakan untuk menyajikan pesan di semua ukuran ruangan kelas

Memerlukan perencanaan yang matang dalam pembuatan dan penyajiannya

Menarik karena memungkinkan penyajian yang variatif dan disertasi dengan warna-warni yang menarik

Urutan OHT mudah kacau karena merupakan urutan yang lepas

Tatap muka dengan siswa selalu terjaga dan memungkinkan siswa untuk mencatat hal-hal yang penting

 

Tidak memerlukan operator secara khusus dan tidak pula memerlukan penggelapan ruangan

 

Dapat menyajikan pesan yang banyak dalam waktu yang relatif singkat

 

Program OHT dapat digunakan berulang-ulang

 


2. Media opaque projector

Opaque Projector atau proyector tak tembus pandang merupakan media yang digunakan untuk memproyeksikan bahan dan benda-benda yang tidak tembus pandang, seperti buku, foto, dan model-model baik yang dua dimensi maupun yang tiga dimensi. Berbeda dengan OHP, opaque projector ini tidak memerlukan transparansi, tapi memerlukan penggelapan ruangan. Opaque projector biasanya dapat pula digunakan untuk memproyeksikan film bingkai/ slide tetapi tidak dilengkapi dengan tape recorder.

Kelebihan dan kelemahan media opaque projector ini hampir mirip dengan kelemahan dan kelebihan OHP dan media slide. Oleh karena opaque projector dengan segala karakteristiknya dapat berfungsi sebagai OHP dan projector slide.

3. Media slide

Media slide atau film bingkai merupakan media visual yang diproyeksikan melalui alat yang disebut dengan projector slide. Slide atau film bingkai terbuat dari film yang kemudian diberi bingkai yang terbuat dari karton atau plastik. Film yang biasa digunakan untuk film slide adalah film yang ukuranya 35 mm dengan ukuran bingkai 2 X 2 inchi. Sebuah program slide biasanya terdiri dari beberapa bingkai yang banyaknya tergantung pada bahan atau materi yang akan disampaikan.

Sedangkan untuk kelebihan dan kekurangan pada media slide yaitu:

Kelebihan

Kekurangan

Membantu menimbulkan pengertian dan ingatan yang kuat pada pesan yang disampaikan

Memerlukan penggelapan ruangan untuk memproyeksikannya

Merangsang minat dan perhatian siswa dengan warna dan gambar yang konkrit

Pembuatannya memerlukan waktu yang cukup lama, jika program yang dibuat panjang

Program slide mudah direvisi sesuai dengan kebutuhan, karena filmnya terpisah-pisah

Memerlukan biaya besar

 

Penyimpanannya mudah karena ukurannya kecil

Hanya dapat menyajikan gambar yang diam (gerakannya terbatas walaupun dengan menggunakan lebih dari sebuah proyektor)


4. Media filmstrip

Filmstrip atau film rangkai atau film gelang adalah media visual proyeksi diam yang pada dasarnya hampir sama dengan slide. Hanya saja filmstrip ini terdiri atas beberapa film yang merupakan satu kesatuan. Jumlah frame atau gambar dari suatu filmstrip ada yang berjumlah 50 buah dan ada pula yang berjumlah 75 buah dengan panjang 100 sampai dengan 130 cm.

Kelebihan filmstrip dibandingkan film slide yaitu media filmstrip mudah penggandaannya karena tidak memerlukan bingkai, juga frame-frame filmstrip tidak akan tertukar karena merupakan satu kesatuan. Akan tetapi pengeditan dan perbaikan/ revisi filmstrip relatif sulit didapatkan karena harus dilakukan di laboratorium khusus.


C. Kelompok ketiga (media audio)

Media audio merupakan media yang penyampaian pesannya hanya dapat diterima oleh indera pendengaran. Pesan atau informasi yang akan disampaikan dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif yang berupa kata-kata, musik, dan sound effect. Adapun jenis media audio antara lain:

1. Media radio

Radio merupakan media audio yang menyampaikan pesannya melalui pancaran gelombang elektromagnetik dari suatu pemancar. Pemberi pesan atau penyiar secara langsung dapat mengkomunikasikan pesan atau informasi melalui suatu alat yang kemudian diolah dan dipancarkan ke segenap penjuru melalui gelombang elektromagnetik dan penerima pesan akan menerima informasi melalui pesawat radio.

Adapun kelebihan dan kekurangan pada media radio yaitu:

Kelebihan

Kekurangan

Memiliki variasi program yang cukup banyak

Sifat komunikasinya hanya satu arah (one-way communication)

Sifatnya mudah dipindah-pindahkan tempat dan gelombangnya

Jika siarannya monoton akan lebih cepat membosankan siswa untuk mendengarkannya

Baik untuk mengembangkan imajinasi siswa

Program siarannya selintas, sehingga tidak bisa diulang-ulang dan disesuaikan dengan kemampuan belajar siswa secara individual

Dapat lebih memusatkan perhatian siswa terhadap kata, kalimat atau musik, sehingga sangat cocok digunakan untuk pengajaran bahasa

 

Jangkauannya sangat luas, sehingga dapat didengar oleh massa yang banyak

 

Harga relatif lebih murah

 


2. Media alat perekam pita magnetik

Alat perekam pita magnetic atau kaset tape recorder merupakan media yang menyajikan pesannya melalui proses perekaman kaset audio. Tidak seperti radio yang menggunakan gelombang elektromagnetik sebagai alat pemancarannya.

Adapun kelebihan dan kekurangan pada media alat perekam pita magnetik yaitu:

Kelebihan

Kekurangan

Pita rekaman dapat diputar berulang-ulang sesuai dengan kebutuhan siswa

Daya jangkauannya terbatas

Rekaman dapat dihapus dan digunakan kembali

Biaya penggandaan alatnya relatif lebih mahal dibandingkan radio

Mengembangkan daya imajinasi siswa

 

Sangat efektif untuk pembelajaran bahasa

 

Penggandaan programnya sangat mudah

 


D. Kelompok keempat (media audio visual diam)

Media audio visual diam merupakan media yang penyampaian pesannya dapat didengar dan dilihat. Akan tetapi gambar yang dihasilkannya adalah gambar diam atau sedikit memiliki unsur gerak. Jenis media ini antara lain media sound slide (slide suara), film strip bersuara, dan halaman bersuara. 

Kelebihan dan kelemahan media ini tidak jauh berbeda dengan media proyeksi diam. Perbedaannya adalah adanya aspek suara pada media audio visual diam.


E. Kelompok kelima (film/ motion pictures)

Film disebut juga gambar hidup (motion pictures) yaitu serangkaian gambar diam (still picture) yang meluncur secara cepat dan diproyeksikan sehingga menimbulkan kesan hidup dan bergerak. Film merupakan media yang menyajikan pesan audio visual dan gerak. Oleh karenanya, film memberikan kesan yang impresif bagi pemirsanya.

Ada beberapa jenis film diantaranya film bisu, film bersuara, dan film gelang yang ujungnya saling bersambungan dan proyeksinya tak memerlukan penggelapan ruangan.

Adapun kelebihan dan kekurangan pada media film yaitu:

Kelebihan

Kekurangan

Memberikan pesan yang dapat diterima secara lebih merata oleh siswa

Harga produksi mahal

Sangat bagus untuk menerangkan suatu proses

Pembuatannya memerlukan banyak waktu dan tenaga

Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu

Memerlukan operator khusus untuk mengoperasikannya

Lebih realistis, dapat diulang-ulang dan dihentikan sesuai dengan kebutuhan

Memerlukan penggelapan ruangan

Memberikan kesan yang mendalam, yang dapat mempengaruhi sikap siswa

 


F. Kelompok keenam (televisi)

Televisi merupakan media yang dapat menampilkan pesan secara audio visual dan gerak. Jenis media diantaranya: televisi terbuka (open broadcast television), televisi siaran terbatas/ TVST (cole circuit television/ CCTV) dan video-cassette recorder (VCR).

1. Televisi terbuka (open broadcast television)

Media televisi terbuka merupakan media audio visual gerak yang penyampaian pesannya melalui pancaran gelombang elektromagnetik dari satu stasiun kemudian pesan diterima oleh pemirsa melalui pesawat televisi.

Adapun kelebihan dan kekurangan pada media televisi terbuka yaitu:

Kelebihan

Kekurangan

Informasi/ pesan yang disajikan lebih aktual

Programnya tidak dapat diulang-ulang sesuai kebutuhan

Jangkauan penyebaran luas

Sifat komunikasinya hanya satu arah

Memberikan pesan yang dapat diterima secara merata oleh siswa

Gambarnya relatif kecil

Sangat bagus untuk menerangkan suatu proses

Kadangkala terjadi distorsi gambar dan warna akibat kerusakan atau gangguan magnetik

Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu

 

Memberikan kesan yang mendalam yang dapat mempengaruhi sikap siswa

 


2. Televisi siaran terbatas/ TVST (cole circuit television/ CCTV)

TVST atau CCTV merupakan media audio visual gerak yang penyampaian pesannya didistribusikan melalui kabel. Dengan kata lain, kamera televisi mengambil suatu objek di studio misalnya guru yang sedang mengajar kemudian hasil pengambilan didistribusikan melalui kabel-kabel ke pesawat televisi yang ada di ruangan-ruangan kelas.

Kelebihan televisi siaran terbatas ini dibandingkan dengan televisi terbuka diantaranya adalah komunikasi dapat dilakukan secara dua arah (hubungan antara studio dan kelas dilakukan melalui intercom), kebutuhan siswa dapat lebih diperhatikan dan terkontrol. Sedangkan kelemahannya adalah jangkauan relatif terbatas.

3. Video-cassette recorder (VCR)

Berbeda dengan media film, media VCR perekamannya dilakukan dengan menggunakan kaset video, dan penayangannya melalui pesawat televisi; sedangkan media film, perekaman gambarnya menggunakan film seluloid yang positif dan gambarnya diproyeksikan melalui proyeksi ke layer.

Secara umum kelebihan media VCR sama dengan kelebihan yang dimiliki oleh media televisi terbuka. Selain itu, media VCR ini memiliki kelebihan lainnya yaitu programnya dapat diulang-ulang tetapi kelemahannya adalah jangkauannya terbatas.


G. Kelompok ketujuh (multi media)

Multi media merupakan suatu sistem penyampaian dengan menggunakan berbagai jenis bahan belajar yang membentuk suatu unit atau paket. Contohnya suatu modul belajar yang terdiri atas bahan cetak, bahan audio, dan bahan audio visual.

Adapun kelebihan dan kekurangan pada media media yaitu:

Kelebihan

Kekurangan

Siswa memiliki pengalaman yang beragam dari segala media

Biayanya cukup mahal

Dapat menghilangkan kebosanan siswa karena media yang digunakan lebih bervariasi

Memerlukan perencanaan yang matang dan tenaga yang profesional

Sangat baik untuk kegiatan belajar mandiri

 


Referensi

Susilana, R., & Riyana, C. (2009). Media Pembelajaran: Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Penilaian. Bandung: CV Wacana Prima.

View My Stats