3/15/2026

Penelitian kualitatif dan kuantitatif dalam pendidikan

Penelitian adalah proses bertahap untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi agar kita lebih memahami suatu topik atau masalah.


Mengapa penelitian pendidikan penting?

Ada tiga alasan utama pentingnya melakukan penelitian pendidikan:

1. Menambah pengetahuan

Penelitian dapat mengisi kekosongan di literatur (topik yang belum pernah diteliti), menguji ulang temuan lama dengan konteks/partisipan baru, memperluas pemahaman kita (misalnya meneliti kelompok yang belum pernah disuarakan), menunjukkan praktik yang bekerja dan yang tidak, dan memperbaiki praktik.

2. Memfasilitasi guru meningkatkan kualitas pengajaran

Dari peneltian, guru dapat mencari garis penelitian (line of research) yang sesuai kebutuhan kelasnya, membandingkan berbagai pendekatan lalu memilih yang paling mungkin efektif di konteksnya, dan penelitian membantu guru menjadi lebih efektif sehingga hasil belajar siswa meningkat.

3. Menginformasikan kebijakan

Pembuat kebijakan pendidikan bisa menggunakan hasil penelitian ketika menyusun aturan, program, atau kebijakan baru.


Masalah yang sering muncul dalam penelitian

Creswell dan Guetterman (2019) menjelaskan bahwa tidak semua penelitian itu bagus karena:

1. Data bisa kurang dapat dipercaya

Misalnya responden tidak tepat, jumlah sampel sangat kecil, pertanyaan survei ambigu, dan statistik yang dipakai tidak tepat.

2. Laporan bisa tidak jelas

Misalnya tujuan kabur, prosedur pengumpulan data tidak dijelaskan, dan masalah penelitian tidak dirumuskan dengan baik.


Proses dalam penelitian

Secara umum ada 3 proses penting dalam penelitian:

1. Mengajukan pertanyaan

2. Mengumpulkan data untuk menjawab

3. Menyajikan jawaban atas pertanyaan

Secara lengkap, Creswell dan Guetterman (2019) menjabarkan proses ini menjadi 6 langkah (bisa berulang, bukan selalu linear):

1. Mengidentifikasi masalah penelitian

  • Menentukan isu/masalah pendidikan yang akan dikaji
  • Menjelaskan mengapa masalah itu penting untuk diteliti
  • Menunjukkan siapa yang akan diuntungkan oleh penelitian ini

2. Menelaah literatur

  • Mencari dan membaca ringkasan penelitian, buku, artikel jurnal, laporan
  • Tujuannya untuk mengetahui apa yang sudah dan belum diketahui, menghindari duplikasi yang tidak perlu, membangun di atas pengetahuan yang sudah ada

3. Menentukan tujuan dan pertanyaan/hipotesis

  • Menyusun purpose statement (pernyataan tujuan) atau apa niat utama dalam studi
  • Mengurainya menjadi pertanyaan penelitian (research questions), dan/atau hipotesis (khusus kuantitatif) yang memprediksi hubungan antar variabel

4. Mengumpulkan data

  • Menentukan siapa/apa yang akan diteliti (partisipan, lokasi)
  • Menentukan cara mengumpulkan data (kuesioner, wawancara, observasi, dokumen, dsb)
  • Menentukan prosedur izin/etika yang harus diikuti

5. Menganalisis dan menafsirkan data

Analisis:

  • Analisis kuantitatif dengan menggunakan statistik (rata‑rata, perbandingan kelompok, korelasi, dsb)
  • Analisis kualitatif dengan mengelompokkan kata/gambar menjadi kategori/tema, membuat deskripsi kaya

Interpretasi:

  • Menjelaskan apa arti temuan
  • Membandingkan dengan literatur/prediksi awal
  • Menyebutkan keterbatasan dan arah penelitian lanjut

6. Melaporkan dan mengevaluasi penelitian

  • Menulis laporan (skripsi/tesis, artikel jurnal, laporan sekolah, makalah konferensi, dsb.)
  • Menyesuaikan struktur dan bahasa laporan dengan audiens
  • Pembaca lalu menilai kualitas penelitian berdasarkan standar tertentu


Karakteristik penelitian kuantitatif

Penelitian kuantitatif tepat apabila kita ingin mengukur dan menjelaskan hubungan antar variabel.

Ciri utama kuantitatif di sepanjang 6 langkah:

1. Masalah penelitian

Biasanya berupa deskripsi tren (mis. seberapa banyak, seberapa sering), atau penjelasan hubungan antar variabel (mis. apakah X memengaruhi Y).

2. Literatur

Berperan besar menunjukkan apa yang sudah diketahui, membantu menyusun pertanyaan/hipotesis, memberikan dasar teori untuk hubungan antar variabel.

3. Tujuan, pertanyaan, hipotesis

  • Spesifik, sempit, terukur, dapat diamati
  • Menyebutkan variabel dengan jelas (mis. “pengaruh metode X terhadap nilai ujian Y”)
  • Sering memakai teori sebagai jembatan yang memprediksi hubungan tersebut

4. Pengumpulan data

  • Mengumpulkan data numerik dari banyak orang
  • Menggunakan instrumen terstandar serperti kuesioner dengan opsi jawaban tetap (mis. sangat setuju–sangat tidak setuju), tes, dan skala sikap

5. Analisis dan interpretasi

Menggunakan statistik: 

  • Deskriptif: rata‑rata, standar deviasi, frekuensi
  • Inferensial: uji perbandingan kelompok, korelasi, regresi

Menafsirkan dengan cara:

  • Apakah hasil sesuai/bertentangan dengan hipotesis awal?
  • Bagaimana dibandingkan dengan penelitian sebelumnya?

6. Pelaporan

  • Struktur relatif baku seperti pendahuluan, telaah literatur, metode, hasil, dan diskusi/kesimpulan
  • Gaya penulisan objektif, impersonal, peneliti berusaha meminimalkan bias pribadi


Karakteristik penelitian kualitatif

Penelitian kualitatif tepat apabila kita ingin mengeksplorasi fenomena yang belum banyak diketahui, dan memahami makna/pengalaman mendalam sekelompok orang.

Ciri utama kualitatif di sepanjang 6 langkah:

1. Masalah penelitian

  • Fokus pada eksplorasi karena ingin memahami secara rinci suatu fenomena sentral (central phenomenon), misalnya “kepercayaan orang tua pada kepala sekolah”
  • Seringkali variabel belum jelas, justru ingin ditemukan dari lapangan

2. Literatur

Peran dalam penelitian ini lebih kecil di awal karena cukup untuk menunjukkan bahwa masalah itu penting/kurang diteliti, dan tidak digunakan untuk mengunci arah pertanyaan secara kaku karena peneliti ingin belajar dari responden penelitian.

3. Tujuan dan pertanyaan

Dirumuskan luas dan terbuka untuk memudahkan responden mengekspresikan pengalaman dengan cara mereka sendiri.

Contoh: Apa pengalaman anda terkait kepercayaan pada kepala sekolah?

4. Pengumpulan data

  • Data berupa kata‑kata atau gambar yang dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dokumen, foto, dan video
  • Biasanya dari jumlah partisipan yang kecil agar dapat memahami pandangan mereka secara mendalam

5. Analisis dan interpretasi

  • Memecah teks menjadi potongan (text segments), lalu memberi kode, mengelompokkan menjadi kategori/tema, dan membuat deskripsi rinci orang/tempat/peristiwa
  • Menafsirkan makna yang lebih luas tentang bagaimana temuan terkait penelitian sebelumnya, refleksi pribadi peneliti, dan makna abstrak yang lebih besar

6. Pelaporan

  • Struktur fleksibel, berkembang (emerging), bisa mirip format ilmiah, atau berbentuk storytelling: cerita, vignette, kutipan panjang, metafora
  • Peneliti sering menampilkan refleksi diri dan biasnya secara eksplisit


Menyesuaikan pendekatan dengan masalah, audiens, dan pengalaman

Creswell dan Guetterman (2019) memberikan tiga pertimbangan saat memilih pendekatan:

1. Kesesuaian dengan masalah penelitian

Kuantitatif:

Apabila ingin mengukur variabel, menguji teori, menjelaskan/prediksi hubungan, generalisasi ke banyak orang.

Kualitatif:

Apabila ingin mengeksplorasi pandangan individu, memahami proses, membangun teori dari bawah (grounded), atau menggali detail mendalam beberapa orang/situs.

2. Kesesuaian dengan audiens

  • Pembaca tertentu lebih familiar dengan: laporan kuantitatif yang standar atau laporan kualitatif yang naratif
  • Peneliti perlu mempertimbangkan harapan audiens (mis. komite kampus, jurnal, pembuat kebijakan, guru, praktisi)

3. Kesesuaian dengan latar belakang peneliti

  • Peneliti kuantitatif biasanya punya pelatihan statistik, pengukuran, eksperimen, survei
  • Peneliti kualitatif biasanya memiliki pengalaman kerja lapangan, observasi, wawancara, analisis teks


Isu‑isu etis penting dalam penelitian pendidikan

Karena adanya sejarah penyalahgunaan subjek penelitian (misal eksperimen Nazi, Tuskegee), maka pemerintah dan asosiasi profesi menerbitkan banyak pedoman etika.

1. Level regulasi

Institutional Review Boards (IRB) kampus:

Di kampus yang menerima dana federal, peneliti pendidikan harus mengajukan proposal ke IRB, menunjukkan bagaimana peserta akan dilindungi, dan menyiapkan formulir persetujuan (informed consent).

Asosiasi profesional:

Misalnya American Educational Research Association dan American Psychological Association (APA), dsb. Asosiasi ini memberi pedoman tentang hak peserta, cara melaporkan hasil.

2. Hak peserta dan praktik etis

Pedoman umum:

Peserta berhak mengetahui, tujuan dan metode studi, bagaimana data akan digunakan, dan konsekuensi sosial yang mungkin muncul.

Peserta:

Peserta boleh menolak ikut dan boleh mengundurkan diri kapan saja.

Peneliti:

Peneliti menjaga anonimitas/kerahasiaan identitas, tidak memberi imbalan berlebihan yang bisa memaksa orang berpartisipasi, dan mencari cara untuk memberi kembali (reciprocate) pada peserta.

Dalam pelaporan:

Data harus dilaporkan secara jujur, tidak boleh dimanipulasi, tidak boleh plagiarisme, semua kutipan diberi kredit, dan hindari bahasa yang diskriminatif atau merendahkan terhadap kelompok tertentu.


Referensi

Creswell, J. W., & Guetterman, T. C. (2019). Educational research: Planning, conducting, and evaluating quantitative and qualitative research (6th ed.). Pearson

0 komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan baik dan sopan ya ^^

View My Stats